Jumat, Maret 16, 2012

BBM Naik, SBY Turun?

Oleh: Harits Abu Ulya. Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)

Di depan raker komisi VII DPR-RI (Selasa,6/3/2012), Menteri ESDM Jero Wacik mewakili pemerintah, menyodorkan opsi kenaikan BBM sebasar Rp 1.500 perliter mulai April 2012. Artinya BBM jenis premium menjadi Rp.6.500 perliter. Opsi kenaikan harga BBM seolah pilihan final dengan alasan untuk antisipasi dampak melemahnya ekonomi global dan tragedi politik kawasan produsen minyak di Timur Tengah.Sebuah kebijakan politik ekonomi yang tidak populis, resiko cukup tinggi. Belum lagi susulan di bulan Mei 2012 TDL (tarif dasar listrik) juga akan di naikkan sebesar 10% secara bertahap.Apakah kebijakan ini akan menjadi bumerang pemerintahan SBY? Artinya SBY bisa jatuh sebelum tahun 2014 atau hanya bisa mengurangi dominasi partai penguasa dipemilu 2014?.Dengan memetakan faktor dan variabel perubahan politik kita bisa melihat kemungkinannya.

Peta entitas yang menghendaki perubahan (dalam konteks Indonesia) terpolarisasi dalam dua kutub. Pertama, kelompok intrasistem (intra-parlementer) dan yang kedua kelompok ekstra-parlementer (diluar sistem). Dan juga bisa dikatagorikan dalam prespektif pro-sistem politik demokrasi-kapitalis dan yang kontra. Sebagian entitas ektra-parlemen sebagian masih percaya kepada sistem yang ada saat ini, bahkan terkadang mereka membuat simbiosis dengan kelompok intra-parlementer. Artinya yang diluar sistem tidak otomatis semua kontra terhadap sistem politik yang tegak. Melalui tangan entitas diatas mungkinkah jargon “ganti rezim” atau “ganti rezim-ganti sistem” bisa diwujudkan melalui isu kenaikan harga BBM? Seperti halnya sebagian masyarakat sudah mulai demo menolak kenaikan harga BBM dan rencana BEM se-Indonesia yang sudah menyiapkan demo besar dengan target jika BBM Naik, SBY harus turun.
Pertama; kecil peluang jika rakyat berharap Parpol dan anggotanya yang di parlemen untuk  memakzulkan SBY, oleh partai oposan sekalipun. Fakta empiris menjelaskan kapasitas politisi diparlemen lebih mewakili kepentingan politik segelintir orang dan kelompok. Atau sebenarnya mereka adalah wakil para pemodal, cukong yang tidak tampak dipanggung politik. Meminjam hasil survey CSIS 16-24 Januari 2012, tingkat ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai mencapai 87,4%.Kepercayaan kepada politisi hanya 23,4%, dan kinerja  parpol 87,6% dinilai sangat buruk. Ini tidak jauh beda untuk DPR periode 2004-2009, kepercayaan masyarakat rata-rata hanya 24%. Artinya, masyarakat sendiri sudah apatis terhadap mereka. Partai dan politikusnya tersandera oleh kepentingan politik transaksional.Kebijakan yang tidak populis dari status quo bisa diatur melalui setgab (sekretariat gabungan) Parpol koalisi agar DPR bisa memberikan legitimasi. Jebakan demokrasi menjadikan parpol “banci”, rumus baku pergantian RI-1 harus melalui mekanisme demokrasi. Akan menjadi aib politik jika naik ditampuk kekuasaan dengan jalan inskonstitusional. Mereka tidak punya “syahwat berkuasa” sebelum kekuasaan SBY berakhir 2014. Dan bagi mereka saat ini yang paling urgen adalah mengumpulkan pundi-pundi politik terutama finansial (uang) untuk pemilu 2014, disamping membangun citra dengan cara muslihat yang lihai saling menelikung sekalipun sesama parpol koalisi. Kaidah politik pragmatis belum bergeser, bahwa kepentinganlah yang abadi, teman dan musuh tidak abadi. Banyak kasus skandal politik bisa dimainkan untuk bargaining posisi diantara mereka, dari Century Gate, Gayus T, Wisma Atlet, Hambalang dan lainya. Wajar masyarakat menjadi sangat apatis terhadap DPR, langgam politik yang dimainkan politisi di parlemen sudah lumrah dianggap sandiwara dan seperti opera sabun yang basi.Hakikatnya kelompok ini menjadi power sub-ordinat dari sistem yang ada, dampak manuver politik pragmatismenya hanya melahirkan perubahan artificial (kulit) tidak menjawab kompleksitas persoalan bangsa.

Kedua; bagaimana dengan komponen ektra-parlemen (tapi masih percaya dengan sistem politik demokrasi)?. Mereka sebagian besar dari kalangan aktifis, ormas, NGO/LSM atau embrio sebuah parpol dan mahasiswa yang pragmatis. Orentasi politiknya tidak jauh beda, menjadi “oposan” bermanuver dan melakukan tekanan-tekanan dengan berbagai teknik dan strategi terhadap status quo. Tapi, tidak jarang itu hanya menjadi batu loncatan untuk meneguk keuntungan pragmatis. Bahasa-bahasa “proletar” yang seolah menyuarakan kepentingan rakyat hanyalah topeng, jikapun ada yang idealis saya melihatnya tetaplah semu. Mereka “Menjual” derita rakyat tapi untuk dijadikan tumbal kepentingan pribadi agar bisa bargaining posisi. Jika kalangan aktifis dan komunitas mahasiswa melalui BEM  se-Indonesia sudah siap menggelar demo dengan target SBY turun. Tapi anomali dengan fakta lapangan, saat ini mahasiswa sudah terdiaspora dalam berbagai orentasi politik pragmatis dan sedikit yang ideologis.Pragmatisme menjadi determinasi di berbagai segmen pergerakan tidak terkecuali mahasiswa. Momentum untuk reformasi jilid dua belum menemukan relevansinya dengan mengambil isu kenaikan BBM sebagai entri point. Di kalangan mahasiswa tidak ada kekuatan massif untuk mengawal isu kenaikan BBM menjadi bola salju yang berdampak tumbangnya rezim, apalagi jika peran intelijen (tangan penguasa) mampu penetrasi dan mengkondisikan pola pergerakan dan orentasinya. Sisi lain juga ada potensi munculnya “main mata” antara kelompok penekan luar parlemen dengan parpol intra-parlemen yang sikapnya oposan terhadap penguasa, namun tetap saja belum cukup melahirkan reformasi jilid dua dengan turunya rezim SBY.Karena “main matanya” hanya untuk menjatuhkan citra rival demi pertarungan di pemilu 2014.Jika reformasi jilid II terjadi, saya yakin “quasi reformasi” akan tetap terulang.Mubadzir!.
Ketiga; bagaimana peluang bagi kelompok ektra-parlementer yang kontra sistem politik demokrasi-Kapitalis?Dalam konteks Indonesia saya menemukan dua arus kelompok. Pertama; kelompok sosialis/sosdem, kelompok ini dalam jumlah yang kecil dan sangat tidak signifikan. Dengan bahasa anti neoliberal dan anti kapitalisnya juga belum memiliki kekuatan massif dan signifikan yang mampu menciptakan class struggle untuk melahirkan sintesa politik baru. Sejauh ini, aktifis, mahasiswa, kalangan buruh dengan serikat buruhnya menjadi basis potensial pergerakan mereka disamping kelompok tani. Namun di Indonesia “jajanan politik” kelompok sosialis secara psikologis tidak mudah meraih simpati dan hati masyarakat. Beberapa kasus seperti aksi bakar diri didepan istana Presiden menjadi bukti kegagalan menstimulasi desain kontraksi politik. Pemblokiran ruas jalan tol Jakarta-Cikampek di daerah Bekasi oleh kaum buruh mampu memaksa kebijakan pemerintah selaras dengan tuntutannya, bahkan kemudian menjadi inspirasi langkah-langkah berikutnya ketika cara advokasi yang prosedural gagal dilakukan. Namun menurut saya, tetap saja kelompok yang tidak sepenuhnya menolak demokrasi ini akan berhadapan dengan tembok tinggi pragmatisme dan absurditas konsepsi-konsepsi sosialisme yang mereka usung. Belum lagi kebijakan pemerintah yang bisa meninabobokkan rakyat, otomatis akan mereduksi dan membungkam topik “revolusi” ala kaum kiri.
Kemudian bagaimana dengan kelompok Islamis yang mengusung perubahan dengan Islam Idelogisnya? Apakah akan mampu merealisasikan “ganti rezim dan ganti sistem“?.Dalam hitungan politik, sebenarnya faktor perubahan yakni adanya realitas fasid (rusak) yang inderawi sudah terpenuhi. Demikian banyak problem kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia tidak beranjak dari kubangan masalah. Contoh, kenaikan harga BBM kali ini saja akan otomatis memicu inflansi menjadi 7%. Jelas-jelas rakyat kecil akan menerima dampak, semakin menderita dengan biaya hidup makin tinggi. Dan defisit menjadi 2,3% dari 1,5%, namun untuk menutup defisit pemerintah justru menambah target utang 50 triliun rupiah dengan posisi saat ini utang RI sekitar Rp.1.900 triliun, dengan target utang bruto tahun 2012 sekitar 300 triliun rupiah. Indonesia terjun bebas ke palung jurang utang luar negeri, dan menyebabkan independensi dan kedaulatan ekonomi dan politik bahkan keamanan menjadi absurt. Belum lagi dengan kenaikan BBM diperkirakan memicu penambahan penduduk miskin sekitar 1,5% atau 4-5 juta orang. Menambah angka sebelumnya sekitar 30% atau 75 juta orang dari 18,5 juta rumah tangga yang masuk katagori miskin, hampir miskin, dan sangat miskin versi pemerintah.

Problem lain juga berjibun. Kebijakan liberal disemua sektor dan menguntungkan asing telah merobek rasa nurani keadilan rakyat. Penegakkan hukum yang tebang pilih, bahkan sampai diranah keyakinan terkesan Presiden SBY juga melecehkan umat Islam, di hadapan dubes Asing bertempat di Gedung Pancasila Kemenlu (15/2/2012) menegaskan pemerintah tidak pernah melarang bahkan mengakomodir kebebasan rakyat untuk beribadah sesuai keyakinannya termasuk didalamnya penganut Ahmadiyah.
Secara obyektif menurut saya, kelompok Islamis Ideologis belum mampu mengcover dinamika politik domestik Indonesia untuk keluar menjadi pemenang. Sebenarnya peluang melakukan terobosan sangat besar, disamping targedi “revolusi Arab” cukup menginspirasi dan melahirkan optimisme tentang sebuah siklus kemenangan yakni kelahiran nasib baik kaum Islamis paska runtuhnya kapitalisme global.Namun berangkat dari isu kenaikan harga BBM, saya melihat masih adanya ganjalan yang berarti bagi kelompok Islamis. Baik terkait dengan internal kelompok atau dari eksternal.
Secara aktual, poblem-problem yang melilit mayoritas umat Islam justru melahirkan sikap sangat apatis. Masyarakat sibuk menjadi orang-orang individualis, yang penting bisa menyelamatkan kemaslahatan pribadi masing-masing. Dan ini adalah tembok tinggi yang dihadapi kelompok Islamis (ideologis) untuk mengkonsolidasikan gagasan perubahan yang revolusioner-ideologis bagi tatanan Indonesia kedepan yang lebih baik. Belum lagi tembok penghalang yang lain adalah gerakan sistemik pemerintah untuk meraih hati nurani masyarakat dengan mengintroduksikan kepada mereka tentang konsep kehidupan beragama ala Indonesia (Islam liberal), tentu dengan target utama adalah mereduksi dan mengalenasi kelompok ekstra-parlementer yang Islamis.Belum lagi, menurut saya posisi pemerintahan SBY sendiri cukup percaya diri karena beberapa faktor;
Pertama; kekuasaan SBY di sokong oleh koalisi parpol yang punya kursi di parlemen. Diluar itu masih ada Setgab (sekretariat gabungan) dimana semua kepentingan yang saling menguntungkan anggota koalisi bisa di “musyawarahkan” dan di rumuskan sandiwara politiknya. Bahkan manuver-manuver pengalihan isu dengan mudahnya bisa dilakukan melalui blow-up media.Disamping mereka juga tersandra banyak kasus dan skandal, mengharuskan politik transaksional menjadi lazim. Kedua; pemerintah telah menyiapkan “obat penenang” bagi rakyat, pemerintah menyiapkan dana kompensasi sebasar Rp 22 triliun ke masyarakat dalam bentuk; bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebesar 150 ribu perbulan selama 9 bulan (April-Desember), pemberian beasiswa, pemberian beras untuk rakyat miskin (raskin) selama 14 bulan, dan kompensasi disektor transportasi dengan bantuan yang bersifat Public Service Obligation (PSO) agar tarif angkutan desa tidak naik terlalu tinggi. Di sisi lain pemerintah juga merevisi target pertumbuhan ekonomi dari 6,7% menjadi 6,5%. Disamping akan dilanjutkan rencana konversi dari BBM ke BBG (gas) secara nasional. Rakyat di beri pelipur lara, agar terbiasa dengan lara dan duka berikutnya. Ketiga; pendekatan komunikasi via media oleh pemerintah terhadap rakyat dengan bahasa-bahasa “halus” memaksa rakyat menerima secara rasional dan mau tidak mau harus beradaptasi dengan kebijakan baru pemerintah. Belum lagi langkah “intelijen” secara efektif mampu terjun ke masyarakat dan mengkonsolidasikan tiap kebijakan pemerintah hingga tidak perlu disikapi dengan langkah ekstra-ordinary (luar biasa) dengan tuntutan turunkan rezim SBY.Dan juga tidak sulit bagi “intelijen hitam” melakukan “deception” dengan mengeksplorasi ke permukaan isu-isu sensitif yang bisa mengalihkan perhatian rakyat dari kasus BBM. Mengingat potensi-potensi konflik sosial semua terpetakan jenis dan teritorialnya, maka tinggal memberikan stimulus jika mau. Keempat; pemerintahan SBY dapat dukungan penuh kekuatan kunci, yakni militer. KASAD juga keluarga SBY sendiri, dan banyak dijabatan strategis adalah orang loyalis SBY. Disamping bahasa “kudeta” menjadi tabu bagi militer saat ini, menambah posisi rezim tidak akan tersentuh oleh gerakan-gerakan politik dari militer. Seperti Panglima TNI sendiri telah komitmen untuk mengantisipasi gejolak sosial diseluruh wilayah Indonesia. Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menginstruksikan kepada seluruh komandan komando utama TNI dan jajarannya untuk mengantisipasi dan menanggulangi konflik sosial dan mendukung terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.Instruksi Panglima TNI itu tertuang dalam Surat Telegram (ST) Nomor ST/ 195/ 2012 tanggal 24 Februari 2012, menekankan kembali kepada para Pangdam, Pangarmabar, Pangarmatim, Pangkoopsau I dan Pangkoopsau II untuk membantu penanggulangan konflik dan pembangunan perdamaian berkelanjutan.Ini belum lagi dukungan negara imeperialis AS terhadap pemerintahan SBY dengan kompensasi kebijakan-kebijakan liberal diberbagai sektor harus dikawal dengan segenap kekuatan politiknya oleh SBY.

Wajar kalau kemudian Presiden SBY angkat suara dihadapan insan media (14/2/2012) seakan mau menegaskan bahwa Indonesia establish dan sedang baik-baik saja.
Namun demikian, perubahan adalah suatu yang niscaya setinggi apapun tembok penghalangnya.Kuncinya adalah bagaimana menjadikan kerusakan sistemik akibat diterapkannya ideologi politik yang fasad (batil) sekuler-kapitalis sebagai amunisi untuk membangun kesadaran masyarakat disamping di gambarkan kondisi ideal yang menjadi penggantinya. Dan langkah tersebut tidak cukup, masih harus ditambah tersublimasinya kekuatan-keuatan kunci dari masyarakat yang bisa mensuport perubahan revolusioner. Jika komponen itu bisa diraih oleh kelompok Islamis ideologis maka banyak momentum politik menjadi entri point dari sebuah “revolusi” baru untuk Indonesia. Dan kelompok Islamis tidak akan berhenti di stasiun kanalisasi perlawanan.
Politik menjadi seni yang serba mungkin, SBY bisa jatuh dan juga bisa tidak. Kadang nalar linear dan paralel dalam politik tidak mampu menjelaskan lahirnya faktor baru yang tidak terduga, penyebab isu perubahan menjadi bola salju yang menggelinding  tanpa bisa dibendung.

Kali ini bisa juga bagi kelompok Islamis, jika merasa sudah punya keberanian dan kekuatan yang cukup, kemudian perlu membuat “konfrontasi” yang lebih kuat secara kontinyu dan simultan terhadap status quo hingga fajar revolusi kaum Islamis menyingsing, kenapa tidak? Kita lihat saja.Wallahu a’lam bisshowab[]

Jumat, Februari 24, 2012

Wahai Akhwat, Jangan Tertipu ''Playboy Berkedok Ikhwan''

Oleh: Yulianna PS (Penulis kumcer Hidayah Pelipur Cinta)

“Subhanallah ukhti, Akhi Fulan bin Fulan ini benar-benar shalih, cara bicaranya,  cara merespon lawan bicara, cara memberi komentar di pesbuk, semua kata-katanya indah dan menyentuh, bahkan sangat gentlemen banget.”
Demikian kira-kira curhat seorang akhwat terdengar kepada penulis. Mungkin banyak dari kita mendapat curhat seperti itu dari rekan dekat dan sekitar. Curhat kekaguman seorang akhwat terhadap ikhwan yang dikenal via fesbuk atau jejaring sosial lain. Tidak mengherankan jika akhwat mengagumi ikhwan berlebihan, karena mungkin sang akhwat sedang terpedaya oleh kalimat menghanyutkan dari sang ikhwan.
Tetapi ada hal lain yang mesti diperhatikan oleh seorang muslimah, bahwa lembut dan tegas harus diletakkan pada tempat yang proporsional.
Jika kita memperhatikan pergaulan dunia maya, banyak yang tertipu dan mudah percaya dengan identitas yang tersaji. Padahal dunia maya itu tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan informasi tentang identitas seseorang. Contoh yang paling menonjol, banyak peristiwa akhwat terlukai oleh manis tipuan ikhwan dunia maya. Penulis ambil contoh dari jejaring sosial fesbuk. Di sini rentan terjadi penipuan, baik dari orang biasa maupun orang luar biasa atau orang yang keluar dari kebiasaan.
Ada akhwat yang memang senang dan merasa tersanjung dengan didekati ikhwan yang rada-rada punya jiwa gombalis suka bergaya puitis. Inbox dan komentar dinilainya sebagai bentuk perhatian khusus bagi akhwat, padahal tidak jarang bukan cuma dua atau tiga akhwat yang dijadikan target melancarkan aksi gombalisasi.
Tetapi ada juga akhwat yang justru merasa risih dan gerah dengan banyak diperhatikan ikhwan, karena akhwat akan dapat menyimpulkan bahwa ikhwan model gini tidak layak disebut sebagai ikhwan, tapi lebih pantas dijuluki “Playboy Berkedok Ikhwan.”
Ada beberapa ciri-ciri playboy bergaya ikhwan di dunia maya yang bernama facebook, antara lain:
  1. Rajin memberikan perhatian kepada akhwat melalui komentar, seakan ia adalah ikhwan shalih yang hafal ratusan dalil Al Qur’an dan hadits, padahal bermodal copy-paste dari internet.
  2. Giat kirim inbox pada akhwat. Penting engga penting, ada aja alasan buat membuka celah agar tercipta dialog, terkadang dipaksa-paksakan, sampai-sampai kucing tetangga yang lagi sakit pun jadi bahan pembicaraan.
  3. Tebar komentar berisi pujian, misalnya: ‘Subhanallah, ukhty sangat anggun dengan hijab lebar itu’, atau ‘Wah….mantap benar nih ukhti, ga rugi ana jadi teman anti’, dan bla bla bla….
  4. Tebar perhatian berisi nasihat, misalnya: “Ukhti sholatnya yang khusyu’ ya’, ato ‘ukhti semangat, mujahidah gitu lho, hehhee’. Norak banget khan?”
  5. Yang paling parah ini nih, tebar janji ta’aruf dan nikah, padahal yang dijanjikan bukan cuma dua atau tiga akhwat. Giliran ketauan bohongnya, jadi berabe.
De el el, masih banyak lagi, yang pasti play boy berbaju ikhwan ini sistematis cara melancarkan serangan. Jika yang di incer akhwat yang suka ngebahas jihad, maka bentuk tebar pesonanya juga berkecimpung tentang jihad, meskipun dengan modal mbah Google. Jika yang diincar akhwat aktivis, maka bentuk perhatiannya juga ga jauh-jauh tentang problema keumatan, meski kalimat perhatiannya hasil copas beranda tetangga sebelah.
Terakhir, penulis hanya ingin mengingatkan saja, hati-hati dengan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay yang suka tebar perhatian. Para FBI alias Female Bidikan Ikhwan juga harus pintar-pintar menggunakan jejaring sosial agar mendapatkan manfaat, bukan mudharat. Kalau mau serius sama ikhwan, lebih baik ajak kopdar dan nanya orang-orang dekat. Dan kepada para play boy, stop it deh aksinya, kasian para akhwat yang udah terpedaya oleh aksi kalian. Be Good man guys.. ^_^

Senin, Februari 06, 2012

Kapitalisme, Sistem Cacat yang Sekarat

Bukan hanya kali ini kapitalisme mengalami guncangan. Berkali-kali sistem ekonomi ini terseok-seok. Dengan tambal sulam, yang berarti melepaskan diri dari prinsip dasar, kapitalisme terselamatkan untuk sementara. Namun akankah krisis kali ini akan bisa diatasi?
Banyak pakar ekonomi berpendapat, krisis kapitalisme saat ini melebihi krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan great depression, Oktober 1929, yang juga dimulai di Wall Street.
Krisis ini bukan disebabkan faktor luar tapi faktor dalam yakni kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme, Sistem Cacat yang Sekarat
Bukan hanya kali ini kapitalisme mengalami guncangan. Berkali-kali sistem ekonomi ini terseok-seok. Dengan tambal sulam, yang berarti melepaskan diri dari prinsip dasar, kapitalisme terselamatkan untuk sementara. Namun akankah krisis kali ini akan bisa diatasi?
Banyak pakar ekonomi berpendapat, krisis kapitalisme saat ini melebihi krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan great depression, Oktober 1929, yang juga dimulai di Wall Street.
Krisis ini bukan disebabkan faktor luar tapi faktor dalam yakni kapitalisme itu sendiri. Dr Mohammad Malkawi, penulis buku berjudul: The Fall of Capitalism and Rise of Islam, menjelaskan, adanya cacat serius dalam sistem kapitalisme dan ketidakmampuannya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dunia di bawah kapitalisme.
Sistem ini sangat rapuh. Bahkan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto menyebut sistem ekonomi kapitalis ini bersifat self-destructive (menghancurkan diri sendiri).
Paling tidak ada tiga pilar utama sistem ekonomi kapitalis ini. Yakni (1) riba yang diwujudkan dalam perbankan (baik bank komersial yang memberikan kredit, maupun bank investasi/lembaga sekuritas yang membeli surat utang (umumnya melalui pasar modal); (2) judi yang mewujud dalam bursa saham dan pasar uang; (3) sistem uang kertas yang standarnya dolar.
Sistem ribawi ini menyebabkan uang yang beredar di sektor riil (produksi) jauh lebih kecil dibandingkan dengan di sektor non riil. Ini karena perbankan harus bisa memutar uang yang ada demi memberikan bunga kepada nasabahnya. Tentu uang itu tidak diputar di sektor riil seperti pemberian kredit tapi di sektor lain seperti pasar uang dan surat utang. Makanya, begitu gejolak terjadi dampaknya akan sangat dahsyat karena tidak bertumpu pada ekonomi riil. Inilah yang disebut bubble economy (ekonomi balon).
Sistem ribawi ini juga menyebabkan harta hanya beredar di kalangan orang kaya saja.  Orang miskin tidak dapat menikmati dana banyak yang ada di perbankan karena tidak punya agunan.  Orang kaya akan mudah mendapatkan kucuran dana. Nah, dana yang mereka peroleh dapat dijadikan mesin uang lagi dengan diinvestasikan di sektor non riil misalnya dengan mencari bunga lagi yang lebih besar. Jika terjadi sesuatu, uang itu bisa habis tanpa sisa karena memang tidak ada yang riilnya.
Sistem ini meniscayakan uang tidak lagi dijadikan sebagai alat tukar semata tapi sudah berubah menjadi komoditas yang diperdagangkan misalnya dalam bursa valuta asing dan dalam bursa saham. Dari uang bisa ditarik keuntungan (interest) alias bunga/riba dari setiap transaksi peminjaman atau penyimpanan. Bursa-bursa itu penuh spekulasi alias judi.
Ketika bursa saham gonjang-ganjing maka para pemilik saham pun rugi dan jatuh ‘miskin’.  Padahal, mereka adalah pemilik perusahaan.  Akibatnya, banyak perusahaan yang mengalami kredit macet. Gagal bayar perusahaan mengakibatkan likuiditas bank menurun.  Kinerja bank yang sebelumnya jeblok menjadi semakin hancur. Sedangkan nilai perusahaan/kekayaan menurun sehingga perusahaan dijual murah atau mem-PHK karyawannya.
Turunnya harga saham menyebabkan turunnya ekspor dan berkurangnya arus modal masuk, yang menyebabkan kurs uang melemah.  Ini karena mata uangnya kertas dan standarnya adalah dolar. Siapa yang bisa menghentikan pencetakan uang ini? Ketika dolar terguncang, sudah pasti semua mata uang dunia ikut terguncang
Islam sebagai Solusi
Malkawi yang tinggal di Amerika ini menegaskan, keruntuhan kapitalisme pasti akan terjadi. Sebagai gantinya adalah sistem Islam. Menurutnya, Islam memiliki ide-ide dan pemikiran yang dirumuskan dengan baik dan sistem yang terstruktur. Selain itu, Islam memiliki catatan sejarah penerapan lebih dari 1300 tahun yang menunjukkan bahwa Islam mampu menghasilkan sistem produktif yang dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah manusia yang paling dasar seperti makanan, keamanan, kesehatan, pendidikan dan stabilitas. ”Masalah satu-satunya pada hari ini hanyalah bahwa Islam tidak diterapkan dalam kerangka negara dan masyarakat,” katanya.
Dalam Islam, uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja. Mata uang dibuat dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham di mana 1 dinar emas syar’i beratnya 4,25 gram emas dan 1 dirham perak syar’i beratnya 2,975 gram perak). Mata uang ini akan stabil, bebas guncangan.
Sedangkan ekonomi digerakkan hanya oleh sektor riil saja. Tidak akan ada sektor non riil—dalam arti orang berusaha menarik keuntungan dari mengkomoditaskan uang dalam pasar uang, bank, pasar modal dan sebagainya.
Dalam sistem seperti ini, uang yang beredar pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa — bukan dengan sesama uang seperti yang terjadi pada transaksi perbankan atau pasar modal dalam sistem kapitalis. Semakin banyak uang beredar, semakin banyak pula barang dan jasa yang diproduksi dan diserap pasar. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat sehingga lapangan pekerjaan terbuka, pengangguran bisa ditekan, kesejahteraan masyarakat meningkat. Semua pertumbuhan itu berlangsung secara mantap (steady growth), tanpa ada kekhawatiran terjadi kolaps.
Persoalannya tinggal menunggu negara yang menerapkannya. Tentu negaranya bukan negara kapitalis atau sosialis, tapi negara Islam. Itulah Daulah Khilafah Islamiyah.

Rabu, Desember 28, 2011

IDEOLOGI PENGEMBANGAN PENGETAHUAN

Oleh: Muh. Didi Haryono

Sebelum dijelaskan lebih dalam tentang pengembangan pengetahuan terlebih dahulu kita pahami tentang ideologi. Ideologi berasal dari dua kata yang berbeda yaitu idea dan logos. Idea berarti ide, pokok pemikiran atau pokok persoalan, sedangkan logos berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi, ideologi secara umum berarti ilmu tentang ide. Namun, banyak pakar yang menjelaskan tentang definisi tentang ideologi diantaranya: ideologi sebagai pandangan hidup, ideologi sebagai sebuah system yang jelas, dan ideologi sebagai pemikiran yang menyeluruh dan konprehensif. Sehingga, bisa kita simpulkan bahwa ideologi merupakan pemikiran yang menyeuruh melahirkan seluruh system dan aturan.
Pertanyaan kemudian adalah apakah dalam pengembangan pengetahuan memerlukan sebuah ideologi? Jawabannya perlu. Karena jika kita perhatikan definisi di atas maka ideologi perlu untuk dijadikan pandangan atau arah yang jelas dalam mengembangakan pengetahuan. Oleh karena itu, dalam analisis ini penulis mencoba menganalisia tentang ideologi pengembangan pengetahuan.
Ideologi pengembangan pengetahuan sama dengan atau equivalen dengan arah pengembangan pengetahuan dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Dalam memajukan dunia pendidikan seharusnya tidak ada perbedaan atau dikotomi antara ilmu umum dengan ilmu agama karena terlihat terjadi diskriminasi ilmu pengetahuan (knowledge). Pada hal, hakikatnya ilmu adalah ilmu yang tidak ada perbedaan antara keduanya. Sehingga, untuk memajukan dunia pendidikan seharusnya terintegrasikan antara ilmu pengetahuan dalam hal ini ilmu umum dan ilmu agama agar dengan motivasi atau spirit keagamaan yang tertuang dalam kitab suci mendorong manusia untuk meneliti (research) dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Jika, kita melihatnya secara historis (sejarah) pada masa ke-Khilafahaan kemajuaan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, ilmu kedokteran, matematika, biologi, fisika, arsitektur, filsafat, ketatanegaraan, geografi, dan sebagainya. Pada perkembangan itu Barat dan Eropa mengakui kemajuan tersebut dan berutang budi kepada islam atas perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, kemudian pada masa itu Barat menjulukinya dengan “The Golden age” atau masa kejayaan islam. Sosok Ibnu Sina atau Avensena yang dikenal di barat sebagai bapak kedokteran, jika kita baca biografinya, beliau bukan hanya ahli keokteran tetapi beliau juga ahli hadist dan ahli tafsir.
Saat ini dunia pendidikan Indonesia berkembangan dalam memajukan ilmu pengetahun dan teknologi. Tetapi apakah mampu Indonesia menjadi Negara superpower dalam perkembangan dan kemajuan teknologinya? Pertanyaan inilah yang menjadi motivasi dalam menetukan ideologi apa yang yag digunakan dalam mengembangkan pengetahuan indonesia. Dalam mengambil ideologi tentu banyak yang kita perhatikan, memang kemajuan barat saat ini berkembang dengan pesat dan tidak bisa kita pungkiri dengan kemajuannya, namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan misalkan pendidikan moral, pendidikan tingkah laku dan aspek lainnya. Misalkan aspek pergaulan bebas yang dilakukan oleh remaja di barat seakan-akan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan di negara tersebut, hampir semua remajanya terkena HIV/AIDS. Jikalau renerasi mendatang pergaulannya seperti ini maka masa depan sebuah Negara tinggal tunggu “ajal” kehancurannya. Bukankah pemuda adalah generasi selanjutnya, jika generasi saat ini baik maka generasi masa depan akan baik, sebaliknya jika generasi saat ini buruk, maka generasi akan datang hancur.
Oleh karena itu, pendidikan islam sangat menjunjung tinggi nilai moral, akhlak, dan estetika yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Karena dengan itu generasi masa depan akan senantiasa betah belajar dan saling mrnghargai sesama manusia. Sehingga lebih tepat kalau ideology pengembangan pengetahuan harus kembalikan kepada pendidikan islam.

Senin, Desember 19, 2011

ISLAM DAN IDEOLOGI INDONESIA

Oleh:  M. Didi Haryono*
Islam bukan agama yang memaksa kehendak manusia, islam bukan agama doktrin yang tidak berguna, islam bukan candu dalam kehidupan manusia, islam juga bukan agama yang mendikte dan memaksa non-muslim untuk masuk dalam islam, tetapi islam merupakan agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh yang ada dalam alam semesta). Islam mengajarkan kedamaian, keadilan, keindahan, kerahmatan, dan menghargai sesama manusia untuk hidup bersama sesuai dengan batas aturan yang telah ditentukan dalam agama masing-masing.
Yang lebih penting lagi untuk diketahui bahwa islam merupakan sebuah ideologi (pandangan hidup). Ideologi merupakan cara pandang, pemikiran awal, atau ide dasar dan menyeluruh yang menjadi motivasi kepada seseorang untuk melakukan sebuah perubahan yang revolusioner. Menurut Taqiyuddin An-Nabhani bahwa ideologi merupakan aqidah aqliyah yang memancarkan seluruh peraturan. Oleh karena itu, dikatakan ideologi setidaknya memiliki dua unsur yaitu: ide dasar dan memancarkan seluruh peraturan.
Pertama, ide dasar (aqidah aqliyah), yaitu merupakan sebuah asas yang menjadi sumber aturan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Kebijakan yang diambil harus benar-benar kebijakan yang adil dan bermartabat agar kemudian rakyat menjadi rakyat yang sejahterah tanpa ada yang miskin sedikitpun.
Kedua, memancarkan seluruh peraturan yang mengatur kehidupan manusia baik pada aspek politik, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Sehingga, dalam pengambilan kebijakan senantiasa tidak bertentangan dengan ide dasar yang menjadi sumber dalam pengambilan kebijakan. Misalkan dalam pembuatan undang-undang, entah itu undang-undang pangan, UU-Mineral, UU-SDA, UU-Pidana, UU-Perdata dan lain sebagainya, harusnya kita mengambil kajiannya dari ide dasar yang menjadi sumber hukum tersebut. Tidak perlu kemudian para pengambil kebijakan melakukan studi banding keluar negeri untuk menyesuaikan pasal-pasal dalam undang-undang tersebut sementara negara yang yang dikunjungi bukan negara yang menerapkan ideologi yang sama dengan negara kita.
Ideologi sangat penting dalam sebuah negara dalam menjaga keutuhan dan martabat sebuah negara. Apakah negara itu akan menjadi negara super-power atau hanya sekedar negara yang penguasanya adalah penguasa “boneka” yang akan melanggengkan penjajahan? Ataukan ingin menjadi negara yang sering didikte oleh negara lain yang jelas-jelas mengambil ideologi tertentu dalam menentukan martabar negaranya? Tingga kita menetukan sikap apakah kita mau menjadi negara yang mandiri dan martabat ataukan sebaliknya? Untuk menentukan apakah ideologi atau hanya sekedara set of philoshopy (sekumpulan pandangan), setidaknya memiliki tiga kriteria ideologi, yaitu: menerapkan, menjaga dan menyebarluaskan ideologi.
Pertama, menerapkan ideologi. Tentu saja sebuah negara harus menerapkan ideologi agar kebijakan yang dihasilkan suatu negara dalam memakmurkan dan memberikan kesejahteran kepada rakyat.
Kedua, ideologi harus dijaga oleh negara tanpa ada gerakan “bugat” atau pembangkan, perlawanan, dan permusuhan terhadap negara. Sehingga, seharusnya ideologi yang diterapkan adalah aturan yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia dan sesuai dengan tuntutan rakyat.
Ketiga, dalam menyebarluaskan ideologi tujuannya adalah agar ideologi tersebut bisa diemban oleh negara lain dalam mengokohkan eksistensinya dalam menguasai dunia. Itulah tuujuan dasar dalam menyebarluaskan ideologi di negeri-negeri lainnya minimal negara tersebut menjadi negara yang berkerja sama dengan negara yang menyebarluaskan ideologi.
Berdasarkan ketiga kriteria tersebut yang dijadikan indikator penilaian terhadap ideologi yang ada didunia ini, maka hanya ada tiga ideologi yang memenuhi indikator tersebut, yaitu: sosialis-komunis, kapitalisme-liberal, dan islam. Sosialis-komunis adalah ideologi yang diterapkan oleh Unisoviet (Rusia) yang menjadi negara superpower pada masa pemerintahannya dan telah runtuh pada tahun 1990-an, ada beberapa negara yang merapkannya, diantaranya cina, korea utara, kuba, indonesia pada pemerintahan Suekarno, dan negara lainnya. Kapitalisme-liberal yang saat ini yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan “konco-konconya” yang melakukan imperialisme di negara-negara yang tidak berdaya dalam menanamkan pengaruh ideologinnya pada negara tersebut dan hampir separuh negara di dunia saat ini mengambil ideologi kapitalisme dan menerapkan di negaranya, sehingga pantas kita katakan bahwa pemimpinya adalah pemimpin boneka yang terus berlindung di bawah ketiak AS sampai di akhir masa kekuasaannya.
Sementara islam telah diterapkan pada selama 13 abad berkuasa mulai Nabi saw berhijrah di Madinah sampai pada masa Khilafah Usmaniyah di Angkara-Turki saat ini yang diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Athatur pada  tanggal 3 Maret 1924. Pada masa itu ideologi Islam menjadi ideologi yang diterapkan oleh Khilafah islam dan menjadi negara yang menguasai dunia sehingga dalam penyebarluasan ideologinya dengan dakwah dan jihad. Itulah yang dilakukan oleh Khilafah dalam menyebarluaskan islam agar islam menjadi rahmatan lil alamin. Dan saat ini, tidak ada satupun negara di dunia yang menerapkan islam sebagai ideologi meskipun rakyatnya mayoritas islam. Sehingga, kaum muslimin tidak berdaya melawan imperialisme dan seluruh kekayaan alamnya dikuras habis oleh Asing melalui penguasa bonekanya.
Ideologi Indonesia
Indonesia menerapkan ideologi Pancasila, kata teman saya dalam sebuah dialog. Saya menyatakan jika pancasila adalah ideologi, kita akan uji apakah benar pancasila itu ideologi? Berdasarkan ketiga indikator di atas yang dijadikan patokan maka pancasila bukan ideologi melainkan set of philosphy atau sekumpulan pandangan filosofis tentang ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan dan keadilan yang dijadikan dasar negara. Sehingga pancasila tidak mencukupi untuk mengatur negara ini (not sufficient).
Bisa dibuktikan, sepanjang sejarah kemerdekaan indonesia, pemimpin yang mengambil kendali dan otoritas kebijakan negara justru mengambil sistem ideologi yang berbeda. Misalkan rezim orde lama menggunakan sosialisme, orde baru menggunakan kapitalisme, dan rezim sekarang justru menggunakan neo-liberalisme (kapitalisme-liberal). Padahal ideologi yang digunakan adalah pancasila, tetapi kenapa setiap rezim itu berbeda dalam mengambil ideologinya. Jadi, meski pada tingkat filosofisnya semua mengaku menerapkan pancasila, tetapi sistem yang digunakan ternyata lahir dari ideologi sekularisme baik bercorak sosialis-komunis maupun kapitalisme liberal. Karena pada faktanya yang diberikan pancasila hanya sebatas gagasan atau pandangan filosofis, padahal untuk mengatur negara tidak cukup gagasan  filosofis tetapi juga pengaturan yuridis yang mencakup apa yang dilakukan oleh negara dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh negara.
Jikalau negara kita betul-betul menerapkan pancasila, tentunya banyak sekali peraturan dan kebijakan pemerintah dalam undang-undangnya yang perlu dipertanyakan apakah betul-betul sesuai dengan pancasila atau tidak? Justru jawabanya tidak, misalkan UU Penanaman Modal yang memberikan Asing untuk melakukan Investasi besar-besaran nyaris tannpa hambatan, UU-Migas yang merugikan pertamina, UU-Sumber Daya Air, dan banyak lagi undang-undang yang tidak pro-rakyat akan tetapi semuannya pro-Asing. Hampir semua keayaan alam kita sudah diprivatisasi oleh Asing melalui undang-undang yang dibuat oleh negara. Yang menjadi pertaanyaan besar adalah apakah semua kebijakan tersebut berdasarkan Pancasila????
Inilah yang menjadi renungan bagi bangsa kita dalam menetukkan sikap dalam kemandirian bangsa tanpa ada tekanan dari pihak lain. Karena kita tidak tahu apakah bangsa kita akan bertahan lama dengan sistem dan ideologi yang diterapkan saat ini? Ataukan kita menggantikannya dengan ideologi Islam? Tinggal rakyat sajalah yang akan menentukan sikap untuk mendesak para pengambil kebijakan dan rezim yang memiliki otoritas untuk perubahan sistem bangsa kita agar menjadi bangsa yang bermartabat dan disegani lawan serta menjadi bangsa yang Baldatun Thoibatun wa rabun Ghafur. Wallahu a’lam bi shawab

Senin, Desember 05, 2011

Hijrah Dari Sistem Jahiliah Modern

Al-Islam edisi 583, 2 Desember 2011-6 Muharram 1433 H
Peristiwa hijrah Baginda Nabi saw. dari Makkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum Muslim. Lewat pintu hijrahlah di antaranya Islam sebagai sebuah ideologi dan sistem bisa ditegakkan dalam intitusi negara ketika itu, yakni Daulah Islamiyah.
Sejak keruntuhan Daulah Islamiyah yang terakhir, yakni Khilafah Utsmaniyah tahun 1924 lalu, kaum Muslim berada dalam kungkungan ideologi dan sistem jahiliah modern. Karenanya perjuangan merealisasi hijrah seperti yang dilakukan Nabi saw dan para sahabat untuk saat ini tentu sangat relevan, bahkan merupakan keniscayaan.
Hijrah Secara Bahasa
Hijrah secara bahasa berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637). Baginda Nabi saw. bersabda:
« الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ »
Muslim itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. dan al-Muhâjir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang (HR al-Bukhari).
Menurut Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, hijrah itu ada dua macam: lahiriah dan batiniah. Yang batiniah adalah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh hawa nafsu yang selalu memerintahkan keburukan (nafs al-ammârah bi as-sû’) dan setan. Yang lahiriah adalah menghindarkan diri-dengan membawa agama-dari fitnah.
Hadits di atas setidaknya memberikan dua pelajaran penting. Pertama: seseorang dikatakan muslim jika Muslim yang lain selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Dari sini tentu layak dipertanyakan kemusliman seorang penguasa, jika yang bersangkutan sering menzalimi rakyatnya dengan berbagai kebijakan yang memberatkan mereka. Begitu pula dengan kemusliman seseorang jika ia berdiam diri dan tidak mau menyelamatkan kaum Muslim dari kungkungan penjajahan asing di berbagai aspek saat ini.
Kedua: hijrah hakikatnya adalah meninggalkan larangan-larangan Allah SWT. Karena itu, tentu sia-sia belaka jika setiap tahun memperingati tahun baru Hijrah, sementara kita tetap merasa nyaman ada di bawah sistem kufur saat ini-sistem Kapitalisme-sekular-yang nyata-nyata diharamkan Allah SWT; dan enggan berusaha berpindah ke dalam naungan sistem Islam yang nyata-nyata telah Allah perintahkan.
Hijrah Secara Syar’i
Secara syar’i, para fukaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).
Sejak runtuhnya Daulah Islamiyah (Khilafah Utsmaniyah) pada tahun 1924, tak ada satu pun negeri di seluruh dunia yang menerapkan syariah Islam secara total dalam sebuah institusi negara. Artinya, saat ini tak ada yang namanya Darul Islam, termasuk negeri-negeri Islam. Sebab, meski mayoritas penduduknya adalah Muslim, negeri-negeri tersebut tidak menerapkan syariah Islam (kecuali sebagian kecil) dan kekuasaannya pun secara riil tidak di tangan kaum Muslim.
Dalam hal ini umat Islam wajib mewujudkan Darul Islam itu, yakni dalam wujud Daulah Islam atau Khilafah Islam. Hanya dengan mewujudkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamlah seluruh syariah Islam bisa ditegakkan. Kewajiban ini merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim dan dalil-dalilnya adalah jelas berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’ Sahabat. Para ulama dan imam madzhabpun sepakat tentang kewajiban ini. Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fath al-Bâri menyatakan dengan tegas :
وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ نَصْبُ خَلِيفَةٍ، وَعَلَى أَنَّ وُجُوبَهُ بِالشَّرْعِ لاَ بِالْعَقْلِ
“Mereka (para imam madzhab) telah sepakat bahwa wajib (atas kaum muslim) mengangkat Khalifah dan bahwa wajibnya itu berdasarkan syara’ bukan akal ”
Perlu diperhatikan, pengamalan kembali makna hijrah bisa dilaksanakan kalau Darul Islam yakni Khilafah itu terwujud. Jika tidak, umat Islam, sebagaimana saat ini, tentu tak akan pernah dapat lepas dari kungkungan ideologi dan sistem jahiliah modern saat ini. Berupa sistem sistem Kapitalisme-sekular yang justru wajib ditinggalkan.
Masyarakat Pra dan Pasca Hijrah
Masyarakat yang dibentuk oleh Rasulullah saw. pasca hijrah benar-benar berbeda sama sekali dengan masyarakat jahiliyah pra hijrah. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari beberapa aspek:
Dari aspek akidah, masyarakat jahiliyah pra hijrah penuh dengan kemusyrikan, terutama penyembahan terhadap berhala. Sementara masyarakat Islam pasca hijrah dibangun diatas asas akidah Islam. Akidah Islam menjadi satu-satunya asas negara dan masyarakat. Karena itu, meski saat itu terdapat kaum Yahudi dan Nasrani, aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat secara keseluruhan adalah aturan (syariah) Islam.
Dari aspek sosial, masyarakat jahiliyah pra hijrah identik dengan kebobrokan prilaku yang luar biasa. Mabuk, pelacuran dan kekejaman menyeruak di mana-mana. Anak-anak perempuan yang baru lahir pun biasa dibenamkan hidup-hidup ke dalam tanah. Sementara masyarakat Islam pasca hijrah penuh dengan kedamaian dan ketenteraman serta jauh dari berbagai ragam kemaksiatan. Perjudian diperangi. Perzinaan diberantas. Segala bentuk kemaksiatan dan kriminalitas dibabat habis melalui penegakkan hukum Islam yang tegas.
Dari aspek ekonomi, riba, manipulasi, kecurangan dalam timbangan dan takaran, eksploitasi ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah, konsentrasi kekayaan pada segelintir orang, dsb, kental mewarnai ekonomi masyarakat jahiliyah. Sementara di masyarakat Islam pasca hijrah, ekonomi berbasis riba benar-benar dihapus. Penipuan dan berbagai kecurangan diberantas. Negara bertanggung jawab menjaga pendistribusian kekayaan atau harta agar tidak dimiliki oleh segelintir orang saja. Sebaliknya, seseorang bisa memperolah harta dengan seluas-luasnya asal dibolehkan oleh syariah Islam.
Dari aspek politik, secara politis bangsa Arab jahiliyah pra hijrah bukanlah bangsa yang istimewa. Dua negara adidaya saat itu, Persia dan Byzantium, sama sekali tidak melihat Arab sebagai sebuah kekuatan politik yang patut diperhitungkan. Sementara pasca hijrah, Islam dan kaum Muslim benar-benar mulai diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Daulah Islamiyah yang dibangun Baginda Nabi saw. benar-benar disegani, bahkan ditakuti oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Bahkan sejarah telah membuktikan, pada akhirnya dua negara adidaya saat itu, Persia dan Byzantium, dapat ditaklukan oleh Daulah Islamiyah melalui jihad fi sabilillah. Dengan jihad yang dilancarkan oleh Daulah Islamiyah itulah hidayah Islam makin tersebar dan kekuasan Islam makin meluas.
Refleksi Hijrah Saat Ini
Sebagian ulama menyebut kondisi sekarang sebagai “Jahiliah Modern”. Kondisi akidah/ideologi, sosial, ekonomi dan politik saat ini-yang berada dalam kungkungan ideologi Kapitalisme-sekular-sesungguhnya mirip dengan kondisi sebelum Rasulullah hijrah. Dari sisi akidah, berbagai kemusyrikan dan ragam aliran sesat terus bermunculan. Dari sisi sosial, kebejatan prilaku (maraknya perzinaan, pornografi-pornoaksi, dll), tindakan kriminal (pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, perjudian, narkoba, dll) terus menyeruak. Dari sisi ekonomi, riba masih menjadi basis kegiatan ekonomi. Bahkan dalam hal riba, negara adalah pelaku utamanya dengan terus menumpuk utang luar negeri berbunga tinggi. Tahun 2011 ini saja bunga utang yang harus dibayar Pemerintah adalah Rp 166 Triliun. Bandingkan dengan anggaran Jamkesmas tahun 2011 untuk puluhan juta rakyat miskin yang hanya senilai Rp 6,4 Triliun. Di bidang politik, negeri-negeri kaum Muslim, termasuk negeri ini, juga tidak pernah diperhitungkan oleh negara-negara lain; kecuali sebagai obyek penjajahan. Sumberdaya alam kita menjadi jarahan bangsa-bangsa asing. Di Indonesia, PT Freeport di bumi Papua yang menjarah jutaan ton emas hanyalah salah satu contohnya saja.
Karena itu, sesungguhnya saat ini kaum Muslim, bahkan dunia, memerlukan tatanan baru. Tatanan yang dibangun berdasarkan ideologi dan sistem Islam. Saat ini kita semua perlu membentuk kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islam, yang akan mampu mewujudkan kembali masyarakat Islam. Seperti masyarakat yang dibangun Baginda Nabi saw. pasca hijrah. Khilafah pula yang akan mengantarkan umat ini meraih kembali kemuliaan dan kejayaannya, sebagaimana pada masa lalu. Khilafah pula yang akan menjadikan dunia ini bisa hidup dalam keamanan, kedamaian, kemakmuran, keadilan, kesejahteraan dan keberkahan.
Khilafah Islamlah yang akan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan sekaligus menyebarluaskan hidayah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Alhasil, marilah kita segera berhijrah: dari sistem jahiliah modern saat ini ke sistem Islam. Caranya adalah dengan menegakkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islam. Hanya dengan itulah makna hijrah secara hakiki bisa kita amalkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24)
Wallahu a’lam. []

Rabu, November 02, 2011

10 Perusahaan Besar Amerika Bangkrut

Tempointeraktif.com (1/11/2011). Broker saham dan perdagangan berjangka MF Global bukan satu-satunya perusahaan raksasa Amerika Serikat yang bangkrut.

Berdasarkan data berkas pailit Amerika Serikat, Chapter 11, ada sembilan korporasi besar lain yang kolaps sejak 10 tahun terakhir karena bermacam sebab. Berikut daftar dan susunan berdasarkan nilai aset mereka:

1) Lehman Brothers Holdings, lembaga keuangan, bangkrut pada September 2008, nilai aset US$ 691 miliar.

2) Washington Mutual, bank, bangkrut pada September 2008 dengan nilai aset US$ 327,9 miliar.

3) WorldCom, penyedia telepon jarak jauh, kolaps pada Juli 2002 dengan nilai aset US$ 103,9 miliar.

4) General Motors, perusahaan otomotif, bangkrut pada Juni 2009 dengan aset mencapai US$ 91 miliar.

5) CIT Group, penyedia kredit usaha menengah, bangkrut pada November 2009 dengan nilai aset US$ 80,4 miliar.

6) Enron Group, pabrik turbin dan mesin, bangkrut pada 2001 dengan nilai aset US$ 65,5 miliar.

7) Conseco, lembaga keuangan, bangkrut pada 2002 dengan nilai aset US$ 61,4 miliar.

8) Chrysler, pabrik mobil, bangkrut pada April 2009 dengan nilai aset US$ 39,3 miliar.

9) Thornburg Mortgage, perusahaan pembiayaan dan perdagangan, bangkrut pada Mei 2009 dengan nilai aset US$ 36,5 miliar.

10) Pacific Gas & Electric Co., perusahaan minyak dan gas, bangkrut pada 2001 dengan nilai aset US$ 36,15 miliar.

Selasa, Oktober 25, 2011

Utang Pemerintah Naik Lagi Jadi Rp 1.754,9 Triliun!

Total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp Rp 1.744,34 triliun.
Jika dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga September 2011 bertambah Rp 78,06 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang RI juga naik dari 27,15% pada Agustus menjadi 27,3% pada September.
Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga September 2011 mencapai US$ 198,9 miliar. Turun dibandingkan per Agustus 2011 yang sebesar US$ 203,35 miliar. Namun utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar.
Demikian data yang dirilis Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip detikFinance, Selasa (25/10/2011).
Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman US$ 69,15 miliar dan surat berharga US$ 129,75 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia per September 2011 tercatat sebesar 27,3%.
Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir September 2011 adalah:
  • Bilateral: US$ 41,89 miliar
  • Multilateral: US$ 23,13 miliar
  • Komersial: US$ 3,02 miliar
  • Supplier: US$ 60 juta.
  • Pinjaman dalam negeri US$ 70 juta
Sementara total surat utang yang telah diterbitkan oleh pemerintah sampai September 2011 mencapai US$ 129,75 miliar. Naik dibandingkan posisi Desember 2010 yang sebesar US$ 118,39 miliar.
Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000:
  • Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
  • Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
  • Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
  • Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
  • Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
  • Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
  • Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
  • Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
  • Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
  • Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
  • Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
  • September 2011: Rp 1.754,91 triliun (27,3%)
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terus mengingatkan para menterinya untuk tegas mengurangi utang luar negeri. SBY meminta pelunasan utang lebih digencarkan lagi.
SBY meminta persentase utang pemerintah terhadap PDB di 2014 harus ditekan menjadi paling besar 22%. SBY juga meminta dengan tegas agar tiap tahun jumlah utang yang dibayar harus lebih besar dari jumlah utang yang ditarik oleh pemerintah.
Tahun depan pemerintah merencanakan menyicil pokok dan bunga utang senilai Rp 170,36 triliun. Jumlah ini dinilai anggota DPR makin mengkhawatirkan karena telah membebani 12,9% total belanja pemerintah pusat.
Dalam Nota Keuangan dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2012 disebutkan, penarikan pinjaman luar negeri terdiri dari pinjaman program sebesar Rp 16,9 triliun dan pinjaman proyek sebesar Rp 39,1 triliun yang didalamnya termasuk penerusan pinjaman sebesar Rp 9 triliun. (detikfinance.com, 25/10/2011)

Jumat, Oktober 14, 2011

Soros cs: Krisis Ekonomi 2011 Bisa Runtuhkan Sistem Keuangan Global

Investor miliarder George Soros dan sekitar 100 mantan pejabat Eropa, Rabu, menerbitkan sebuah surat peringatan terbuka bahwa krisis utang zona euro bisa menjatuhkan sistem keuangan global.
“Euro masih jauh dari sempurna,” tulis mereka dalam harian bisnis Jerman Handelsblatt. “Krisis saat ini telah menunjukkan hal itu.”
“Tapi sebagai reaksi untuk itu, kita perlu merevisi kelemahan dengan melengkapinya ketimbang membiarkan krisis untuk melemahkan, bahkan menghancurkan, sistem keuangan dunia,” tambah mereka.
Kelompok ini, yang menyebut diri mereka “Peduli Eropa” mengajak pemerintah untuk mendirikan sebuah lembaga yang dapat memberikan likuiditas ke seluruh zona euro, penguatan pengawasan pasar keuangan dan merevisi strategi pertumbuhan Uni Eropa.
Surat itu ditandatangani oleh mantan politisi terkemuka, seperti mantan menteri keuangan Jerman Hans Eichel, mantan menteri luar negeri Prancis Bernard Kouchner dan Pedro Solbes, yang pernah menjabat Komisoner Urusan Ekonomi dan Moneter Uni Eropa.
Ekonom terkenal Charles Goodhart dari Inggris dan Peter Bofinger dari Jerman juga mencantumkan nama mereka untuk seruan tersebut. Prancis dan Jerman telah berjanji untuk datang dengan solusi luas untuk krisis utang yang sedang berlangsung pada akhir bulan tetapi tetap bungkam tentang rinciannya.
“Power-brokers” zona euro sedang bekerja pada empat isu utama — memompa lebih banyak uang ke bank-bank Eropa, menentukan cara dana bailout Eropa dapat bekerja; mendukung pekerjaan auditor internasional di Yunani dan mempertangguh peraturan utang Uni Eropa.
Pada Rabu sore nanti, Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso bersiap mengeluarkan proposal yang dengan semangat diantisipasi tentang rekapitalisasi perbankan, yang dipandang sebagai langkah penting dalam memperkuat pertahanan mereka terhadap krisis utang. (republika.co.id, 12/10/2011)

Jumat, September 16, 2011

Ismail Yusanto: Ambon Kembali Membara, Kegagalan Negara Melakukan Integrasi Sosial

HTI-Press. Ambon kembali membara, hingga saat ini diberitakan enam orang telah meninggal dunia. Jumlah korban kemungkinan akan bertambah. Konflik yang menurut versi polisi diawali dengan kecelakaan, dengan mudah menyulut kemarahan dan pertikaian. Kenapa hal ini kembali terjadi ? Berikut wawancara dengan Muhammad Ismail Yusanto (Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia).
Apa penyebab Ambon kembali membara?
Dari berita-berita yang ada, kerusuhan di Ambon dipicu oleh salah paham. Setelah meninggalnya seorang tukang ojek, lalu timbullah ketegangan antara kelompok Muslim dan kelompok Nasrani. Mereka menyangka bahwa tukang ojek ini dibunuh oleh pihak lain. Sedangkan menurut polisi ini adalah kecelakaan tunggal, karena menabrak pohon.
Kerusuhan semacam ini sering sekali terjadi. Mengapa warga Ambon mudah sekali bentrok?
Sesungguhnya telah terjadi ketegangan yang cukup panjang antara kelompok Muslim dan non Muslim di Ambon. Ini terjadi lantaran sangat dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi pada tahun 1999 di Ambon. Seperti kita ketahui, saat itu, ketika umat Muslim sedang berlebaran di serang oleh non Muslim.
Meski sudah ada perdamaian tetapi rupanya ketegangan itu masih ada. Jadi bila ada hal-hal sederhana saja atau permasalahan yang belum jelas duduk perkaranya sudah bisa jadi penyulut letupan konflik baru terjadi.
Ketegangan antar dua kelompok ini menunjukkan bahwa kohesi sosial yang diperlukan dalam integrasi sosial itu tidak terjadi. Artinya, di tengah-tengah masyarakat terjadi disintegrasi sosial termasuk disintegrasi politik dan ekonominya.
Di samping itu, adakah kepentingan asing bermain dalam konflik Ambon ini?
Meski saya tidak mendapatkan bukti secara langsung namun itu sangat mungkin terjadi. Karena kita tahu bahwa wilayah Indonesia timur itu adalah wilayah yang sangat rentan terjadi nya intervensi asing.
Kita tahu di Papua, baru-baru ini juga terjadi suatu gerakan pemisahan Papua dari Indonesia. Dan terjadi betul di balik gerakan itu ada pihak-pihak asing yang menggerakkannya. Hal itu sangat mungkin juga terjadi di Ambon karena di Ambon ada kelompok-kelompok separatis seperti RMS.
Saya kira kelompok-kelompok seperti itu selalu berupaya agar wilayah tersebut tidak stabil secara politik. Dan salah satu yang mudah untuk membuat politik tidak stabil adalah konflik yang berlatang belakang agama, seperti rusuh Ambon yang baru saja terjadi.
Bagaimana sikap umat Islam menghadapi situasi seperti itu?
Pertama, bila ada anasir asing yang turut campur dalam masalah ini, harus ditolak karena biasanya kekuatan asing ini merugikan pihak Islam. Apalagi kalau kemudian mereka itu mendorong untuk terjadinya separatisme, lebih harus ditolak lagi.
Kedua, umat Islam tidak boleh terpicu oleh isu-isu tidak berdasar yang menyulut konflik dengan non Muslim. Karena konflik semacam ini konflik yang tidak seharusnya terjadi dan sangat merugikan keduabelah pihak.
Kecuali kalau umat Islam itu diserang, itu persoalan lain. Karena ini berarti ada faktor lain di luar umat Islam. Kalau hal itu yang terjadi tentu saja tidak ada pilihan lain bagi umat Islam kecuali umat Islam harus mempertahankan diri dengan jihad seperti halnya yang pernah terjadi pada tahun 1999.
Ketiga, umat Islam harus mengerti bahwa seperti inilah situasi yang akan terus dialami umat Islam di daerah-daerah yang secara demografis relatif sama dengan non Muslim bila hidup di dalam sistem sekuler.
Artinya, sistem yang ada itu gagal melindungi umat Islam dan gagal juga melakukan integrasi sosial. Karena itu umat Islam harus semakin terdorong untuk menegakkan kembali syariah dan khilafah karena hanya melalui sistem itulah umat Islam akan terlindungi dan integrasi sosial akan terwujud yaitu sebuah masyarakat heterogen yang damai, adil, sejahtera.
Bila syariah tegak dalam naungan khilafah, apakah non Muslim akan ditindas?
Itu tidak akan terjadi oleh karena umat Islam mempunyai kewajiban untuk melindungi mereka. Dan dalam fakta sejarah berdirinya khilafah di masa lalu tidak pernah ada penindasan terhadap non Muslim di tengah-tengah mayoritas Muslim.
Apa yang terjadi di Irak, Mesir, Cordoba (sekarang Spanyol) misalnya, adalah bukti yang cukup nyata bahwa Islam memberikan perlindungan secara ekonomi, politik, sosial, budaya kepada warga non Muslim.[]