Sabtu, Agustus 10, 2013

Berbahagia Menyambut hari yang Fitri

Oleh: Muh. Didiharyono 


Kehidupan yang bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraih kebahagiaan. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit, usaha yang maksimal dan berkerja keras. Kesemuaan puncak tujuan tersebut adalah keinginan untuk hidup bahagia dan berberkah.

Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang kepada tuhannya karena manusia memiliki naluri (grarizah) untuk senantisa senang dan gembira dengan kehidupan mereka. Ada yang beranggapan, jika kebahagian itu terletak pada harta benda yang begitu banyak, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Bila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama dan popularitasnya, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga. Demikianlah gambaran cita-cita hidup manusia menginginkan kebahagiaan dengan cara apapun yang mereka lakukan. Namun, apakah semua itu yang menjadi ukurannya?
Ternyata, kebahagian tolak ukurnya bukan semua akan tetapi kejernihan hati dengan ketaatan kepada tuhannya dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Kepada tuhan kita berserah diri dan apa yang telah ditetapkan oleh Allah berupa aturannya mesti ditaati oleh manusia. Itulah puncak kebahagiaan yang sesungguhnya yaitu tunduk dan patuh terhadap perintah Allah SWT. Begitu juga kebahagiaan yang dirasakan pada hari raya bukan diukur dengan materi tetapi kebersamaan dan silaturrahim dengan sesama sanak keluarga yang diprioritaskan dan juga kepada yang lainnya.
Itulah kiranya alasan yang membuat banyak antrean panjang para pemudik dari berbagai kota besar diseluruh Indonesia, ada yang menggunakan mobil, menggunakan angkotan umum, bersepeda motor, bertaruh nyawa mengarungi medan hambatan, kemacetan dan berrisiko kecelakaan. Terbesik pertanyaan dalam hati. Apakah dikota tidak mendapati kebahagiaan? Semua tempat pada dasarnya ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan oleh masing-masing orang dimanapun mereka berada.
Bagaimana cara memperoleh, mendapatkan dan mempertahankan kebahagiaan yang merupakan hal tersembunyi dari tindakan dan perasaan yang diinginkan kebanyakan orang? Begitu juga dalam kehidupan beragama, kebahagiaan yang dirasakan orang bukan pada materi tetapi berada dalam keyakinannya, dijadikan bukti kebenaran dalam memotifasi kehidupan.
Abdurrahman As-sa’dy dalam mukadimah risalahnya mengatakan: “Sesungguhnya ketenangan dan ketenteraman hati dan hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki”.
Dalam kesulitan menemukan makna hidup ke depan, orang-orang akan mencarinya dengan berpaling ke belakang. Kepulangan ke kampung halaman dengan membawa “oleh-oleh” atau tentengan dari kota untuk sanak family yang ada dikampung. Pulang kampung merupakan mekanisme kehidupan demi mengisi kekosongan makna hidup ketika banyak kesibukan yang dilakukan dikota-kota dan mencari ketenangan makna spiritual yang begitu dalam. Itulah kebersamaan.
Pada saat bulan ramadhan kita banyak menyaksikan orang begitu bersemangat menjalani ibadah puasa selama sebulan disertai dengan ibadah-ibadah lainnya seperti solat Tarawih pada malam-malam Ramdhan, bertadarus al-Quran, Quyamullai, Zikrullah dan berdoa, ittikaf, banyak bersedekah dan sebagainya. Amalan-amalan ini telah meleburkan dan membersihkan segala dosa sehingga keadaan diri mereka seolah-olah kembali seperti bayi yang baru dilahirkan. Kemudian bersemangat meraih hari raya (lebaran) yang fitri.
Rasulullah SAW pernah heran terhadap kehidupan orang-orang yang beriman di mana mereka selalu dalam kebaikan siang dan malam demi kebahagiaan yang mereka cari: “Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya dan kalau dia ditimpa mudharat mereka bersabar maka itu merupakan satu kebaikkan baginya”
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam hadits Rasulullah SAW, diantaranya adalah kebahagian hidup dan kemuliaannya ada bersama keteguhan berpegang dengan agama dan bersegera mewujudkannya dalam bentuk amal shaleh dan tidak bolehnya seseorang untuk menunda amal yang pada akhirnya dia terjatuh dalam perangkap syaithan yaitu merasa aman dari balasan tipu daya Allah SWT.
Setiap individu Muslim dan Muslimah wajib menilai segala aktivitas yang telah berjalan selama ini, yang sesetengahnya telah menjadi ‘budaya’ termasuk bentuk acara menyambut Idil Fitri. Tetapi apalah artinya makna kebahagian yang dirasakan dihari yang fitri ini, jika kenyataan sehari-hari senantiasa dirundung berbagai macam problem jangka panjang yang mengiris hati anak bangsa, kemiskinan, pengangguran, anak terlantar, prilaku elit politik yang menghalalkan segala cara, money politic, pungutan liar, ketidakpastian hukum, tipu-daya partai politik yang sekadar rajin mengibarkan bendera tanpa realisasi, janji-janji omong kosong serta para pemimpin yang kepeduliannya sebatas menaikkan gaji dan harga tanpa kesanggupan memulihkan harapan.
Namun, kita pasti tetap optimis jika suatu saat nanti ada perubahan baru yang ditawarkan oleh generasi masa depan untuk memperbaiki itu semua secara kompherensip (kaffah) disegala bidang. Dengan harapan agar lini dan bidang bekerja secara profesional tanpa ada diskriminasi, penyalagunaan kekuasaan (abused power), melalaikan amanah rakyat dan melalaikan aturan tuhan (Syariat). Semoga paceklik kebahagiaan berakhir. Dengan kembali rahim yang fitri, semoga bisa kita suburkan kembali benih-benih kebahagiaan. Semoga momentum hari yang fitri ini memberikan spirit dan kesadaran kepada semua agar kembali kepada jalan tuhannya.
Spirit Idul Fitri adalah semangat persaudaraan universal, bahwa setiap anak terlahir dalam kejadian asal yang suci (fitrah). Dalam kefitrahan manusia, tuhan tidak pernah partisan memihak seseorang atau golongan tertentu melainkan kualitas keberserahan diri, amal saleh dan ketakwaannya.
Hari Lebaran orang ramai menebar kata “Minal Aidzin wal Faidzin, Maaf lahir dan batin”. Tetapi banyak yang lupa, mereka belum meminta maaf kepada Allah. “Dan tidak ada seorang pun dari padamu Melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu Bagi Rabmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”(QS. Maryam 19:71). Abdullah bin Rawahah terisak membaca ayat itu padahal ia bukan pecinta dunia dan membuat keruasakan di dalamnya. Sebelum berangkat ke medan perang ia berkata “Aku tidak tahu bagaimana bisa keluar darinya, setelah aku memasukinya” Sementara telah kudapati diriku merasa aman dari adzabnya. 
Dengan penjelasan tersebut maka kita dapat mengambil kesimpulan bahawa Idil Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam yang telah berjaya menundukkan nafsu ammarah sepanjang bulan Ramadhan. Apabila muncul awal bulan Syawal, diri mereka telah bersih daripada dosa dan mereka sepatutnya benar-benar menjadi orang yang takwa. Mari kita semua berbahagia menyambut hari yang fitri ini. Wallahu a’lam bi shawwab.

0 komentar: