Rabu, Mei 06, 2015

Dakwah Jalan Kemulian


Berdakwahlah! karena dengan berdakwah anda menjadi mulia.

Dakwah adalah jalan kemuliaan, mengajak kita melintasi waktu yang telah ada, berjalan melintasi gurun, bukit dan pegunungan, menyebrangi sungai dan mengarungi lautan. Perubahan itu sangat cepat, siang begitu cepat mengejar malam. Malam pun demikian, cepat mengejar siang. Kadang membuat kita sadar bahwa waktu yang dilewati telah berlalu. Kadang menjadi sulit bagi kita untuk menentukan sikap dan keputusan kala perubahan cepat itu terjadi. Apalagi tantangan yang menghadang di depan mata kita tidak lah semakin ringan.
Itulah jalan yang akan dilalui yaitu jalan perubahan membentuk sejarah baru yang lebih baik. Tetapi, ketahuilah seluruh pengorbanan itu Allah SWT akan balas dengan hadiah yang terbaik yaitu Surga-Nya.
Pengemban dakwah di samping mendapatkan kemuliaan dan keridhoan dari Allah SWT, pengemban dakwah juga merasakan banyak kenikmatan yang indah. Kenikmatan itu dirasakan takkala menjalani aktivitas dakwah dengan ikhlas dan penuh harap atas rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Itulah jalan dakwah ini.
Jalan dakwah ini senikmat yang dirasakan oleh Abu Bakar Siddik ra dalam keberaniannya. Lelaki yang lembut lagi bijaksana, tetapi ia adalah yang paling berani di antara para sahabat. Juga senikmat yang dirasakan leh Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Tholib ra, mereka adalah sahabat yang begitu tangguh, lembut dan sangat amanah menjalankan perintah agama.  Jalan dakwah ini senikmat yang dirasakan Abu Dujana ra yang berdiri di depan Nabi SAW dengan punggung kearah musuh demi melindungi orang yang dicintainya tersebu, meski panah-panah musuh mengguncangnya.
Jalan dakwah ini senikmat dirasakan Mush’ab bin Umair ra, ksatria yang gagah dibandingkan remaja pada umumnya. Meski darah bercucuran membasahi tubuhnya dan kedua tangannya terputus oleh amukan pedang musuh. Jalan dakwah ini senikmat yang dirasakan Abu Hurairah ra saat-saat kelaparan menghampiri dengan dasyatnya. Abu Hurairah sering mengalami kelaparan selama beberapa hari. Kadang-kadang kelaparan yang dihadapinya begitu dasyat hingga jatuh pingsan. Orang-orang yang melihat keadaannya menyangka ia terkena penyakit sawan.
Jalan dakwah ini senikmat yang dirasakan para srikandi muslimah yang datang ke medang perang di akhir peperangan. Mereka membawa kantong air untuk member minum tentara yang terluka. Di antara mereka ada Aisyah, Ummu Salim, Ummu Salith dan Ummu Aiman. Mereka begitu menikmati, meski bahaya dan maut selalu mengintai.
Jalan dakwah ini senikmat yang dirasakan Ibnu Taimiyah tatkala pindah kerja di ruang yang sempit, pengap lagi gelap yakni di dalam penjara Damaskus. Ia menikmatinya hingga banyak karya yang lahir dalam dekapan bui. Dakwah ini senikmat yang dirasakkan Imam Nabhani yang pernah dipenjara karena dakwah dan perjuangannya, banyak karya yang ia hasilkan untuk melanjutkan perjuangan membangun peradaban baru, peradaban islam yang kedua kali, yaitu khilafah ala minhajin nubuwah.
Mereka merasakan kenikmatan meski sebagian orang melihatnya dengan sebelah mata. Mungkin bagi orang seperti ini pengorbanan para pejuang dakwah tidak lebih dari pekerjaan sia-sia. Karena para pejuang dakwah memang harus siap disiksa dan diasingkan dari dunia ini. Namun, dalam benak para aktivis, yang mereka rasakan justru kenikmatan yang abadi, yang tidak semua orang bisa meraihnya meski peluang itu selalu terbuka. Sayangnya, masih sangat jauh perbedaan jumlah mereka yang ada di jalan kebenaran dan yang membela kebatilan.
Menjalani dakwah ini harus dengan azzam (tekat) yang utuh, kokoh dan menyeluruh. Meski rasulullah SAW dan pasukannya menderita kekalahan pada perang Uhud, merasakan keletihan, menyisakan kesakitan dan kesedihan. Tetapi, mereka punya iman, semangat dan mental yang kuat seperti baja bahkan lebih kuat dari itu. Dengan semangat dan mental yang tidak mengenal kata menyerah, bahkan dengan itu tekat mereka semakin kuat. Sebab dibalik tekat yang kuat akan mampu mengubah kesedihan menjadi kesenangan, mengubah jauh menjadi dekat, mengubah ketikan menjadi kekuatan, bahkan mampu mengubah mimpi menjadi suatu kenyataan.
Kehidupan dalam jalan dakwah menginspirasikan totalitas dalam menjalankan dakwah dan totalitas tekat yang akan menopang kesuksesan dakwah. Ketahuilah dakwah ini membutuhkan tekat yang utuh, kokoh dan  menyeluruh. Tekat itu yang meliputi keseluruhan yang dibutuhkan dalam dakwah ini. Tekat yang meliputi ilmu, amal, dakwah, jihad, imam, yakin, sabar, ridho, kesalehan pribadi dan kesalehan social. Dakwah juga butuh kesungguhan. Kesungguhan mengubah ujian menjadi kesempatan terbaik bagi kita untuk menjadi garda terdepan dalam kebangkitan islam. Hati yang penuh dengan kesungguhan itulah yang akan mengubah keterbatasan menjadi momen perubahan besar dunia dalam penegakan syariat islam kaffah di muka bumi.
Dengan dakwah yang dilakukan ini, maka para pengemban dakwah akan mampu mendobrak pintu kemenangan. Yakinlah musuh-musuh dakwah ini tidak akan menimbulkan mudharat sedikitpun, tetapi kemenangan dan kekalahan semua ada sebabnya. Kewajiban kita adalah meraih pintu sebab tersebut agar Allah SWT memberikan kemenangan kepada kita. Sejarah telah membuktikan bahwa kemenangan hanya diberikan kepada mereka yang layak dan mampu mendobrak sebab-sebab kemenangan tersebut. Mereka adalah penolong agama Allah SWT, yang siapa menyerahkan hidup matinya demi kemuliaan islam dan kaum muslimin (izzul islam wal muslimin).
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad [47] : 7)
Dakwah adalah seruan, mengajak manusia untuk menuju kebaikan, menjalankan amanah Allah SWT yang telah diwajibkan kepada umat muslim yang mukalaf. Tentunya, seruan yang selalu dilakukan oleh pengembang dakwah adalah dengan ucapan dan juga dengan tulisan. Ucapan pengemban dakwah merupakan kalimat hikmah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Setiap ucapan pengemban dakwah sejatinya mencerminkan perbuatannya, sebab ia akan menjadi figur yang akan dicontohi dan ditauladani oleh objek seruan dakwah. Kata-katanya selalu jujur, amanah dalam menjalankan dakwah, dan selalu berdo’a kepada Allah SWT agar seluruh urusan akan dimudahkan oleh-Nya.
Pengemban dakwah menulis tulisan-tulisan yang berbobot, melakukan analisis mendalam tentang fakta yang terjadi, kemudian mencari rumusan seperti apa yang akan menjadi solusi bagi setiap persoalan yang dilakukan oleh masyarakat. Tulisan itu menjadi kritikan tajam bagi para pengkhinat agama, orang-orang yang phobia terhadap islam, orang-orang yang memusuhi islam, agar mereka sadar dan paham, terima dan ridho terhadap keputusan dari Allah SWT demi kebaikan manusia. Hanya saja harus dipahami bahwa tulisan itu bisa dilakukan apabila seruan dakwah jauh dari posisi dan tempat para pengemban dakwah. Sehingga, yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan tulisan.
Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada raja Yaman, raja Bahrain, raja Mukauqis Mesir, raja Heraklius Romawi, raja Najasi, dan raja Kisrah Persia mengajak mereka untuk masuk ke dalam islam. Jika mereka tidak masuk ke dalam islam maka dosa seluruh rakyatnya akan mereka tanggung, kemudian mereka semua akan dimasukan dalam neraka. Seruan rasulullah SAW tersebut ada yang menerima dengan baik, ada yang masih mempertimbangkan, bahkan ada yang menolak dengan tegas dan surat rasulullah SAW dirobek.
Yang menerima seruan rasulullah SAW dengan baik adalah raja Yaman, raja Bahrain, raja Mukauqis Mesir, dan  raja Najasi. Penerimaan mereka ditunjukan oleh masuk islamnya mereka bersama rakyatnya. Raja Mukauqis mengirim hadiah kepada rasulullah SAW tanda mereka menerima islam dengan baik. Kemudian, yang masih mempertimbangkan untuk masuk islam adalah raja Romawi, ia masih ragu apakah betul bahwa Muhammad SAW itu adalah rasulullah (utusan Allah SWT) yang terakhir. Tetapi ia tidak perduli dengan seruan ini, ia juga tidak berpikir untuk menyerang Muhammad SAW, juga tidak menyatakan apa-apa dan raja Heraklius memilih sikap abstain.
Yang menolak dengan tegas ajakan rasulullah SAW dan merobek surat rasulullah SAW sebagaimana sikap yang ditunjukan oleh raja Kisrah Persia. Ketika kabar tentang ucapan Kisra dan kasarnya terhadap surat itu, sampailah kepada Nabi SAW, beliau bersabda “semoga Allah merobek-robek kerajaannya!”. Do’a rasulullah tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, kerajaan Kisrah dicabik-cabik oleh Allah SWT dengan pedangnya (saifullah) panglima Khalid bin Walid ra, seorang jendral pada masa khalifah Umar bin Khattab ra.
Itulah jalan kemuliaan bagi para pengemban dakwah, meski yang terlihat adalah tantangan, rintangan dan resiko perjuangan. Tetapi, dengan keyakinan yang kokoh dan penuh kesabaran, menanti dan mengharapkan pertolongan-Nya maka Insya Allah, Allah SWT akan memenangkan perjuangan ini. Sehingga, Allah SWT membalasnya dengan kebahagiaan di dunia dan di akhirat Allah SWT balas dengan surga-Nya. [] by: Didiharyono

0 komentar: