Selasa, Oktober 09, 2012

Kebenaran Hanya dengan Islam

Oleh: M. Didi Haryono (The Leader ICS)

Jika kita melihat populasi jumlah penduduk di dunia hampir separuhnya adalah umat islam jumlahnya sekitar 1,6 miliar. Negara-negara didunia umat islam mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, hampir semua negara didunia didalamnya ada umat islam. Kita pasti tahu, keberadaan umat islam di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, Afrika Utara, dan Nusantara (Malaisya, Brunai dan Indonesia) jelas umat islam mayoritas, tetapi jika kita melihat umat islam di Amerika, Eropa, dan Australia umat islam minoritas. Meskipun mereka minoritas, tetap kita bisa katakan bahwa di sana ada yang memeluk agama islam. Bahwa data mencatat bahwa jumlah umat islam di Eropa meningkat dari tahun ke tahun pertumbuhannya lebih dari 200% baik berdasarkan angka kelahiran maupun umat nonmuslim masuk agama islam atau dikenal dengan istilah mu’alaf, tidak jauh beda juga yang terjadi di Amerika dan Australia meskipun dengan data yang berbeda. Ini menandakan bahwa semakin hari masyarakat dunia meyakini bahwa ada sesuatu yang khas dalam ajaran islam, sehingga memotifasi kesadarakan mereka agar menuntun kejalan yang benar yaitu islam. Nah, inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Islam berasal dari bahasa Arab yaitu aslama yang berarti keselamatan, sehingga islam juga bisa diartikan sebagai agama yang mengantarkan manusia kepada keselamatan dari dunia hingga akhirat (last after). Jika diartikan secara syar’i islam berarti agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad saw melalui malaikat jibril untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliqnya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan dirinya sendiri agar kemudian dengan aturan tersebut manusia lebih dicintai oleh Khaliknya dan sesamannya.
Islam adalah ajaran yang kompleks dan totalitas, yang mengajarkan manusia dari aturan yang sangat kecil dari aturan atau cara masuk WC (water close) hingga pada aturan tatanan struktur kepemerintahan islam atau kemudian kita kenal dengan sistem Khilafah Islamiyah atau Daulah Islamiyah. Namun, sampai saat ini hanya sedikit orang yang manpu memahami struktur kepemerintahan islam tersebut yaitu ulama-ulama yang mukhlis saja yang paham tentang perkara tersebut tanpa terlena dengan harta dunia yang sementara.
Kompleksifitas dan totalitas islam itulah salah satu yang membuat orang-orang yang mencari kebenaran tertarik untuk mengkaji dan mempelajari ajaran islam dari pokok ajarannya sampai pada cabang-cabang membahasannya beserta implentasi atau aplikasi ajaran islam tersebut, misalkan sholat tidak hanya sekedar ditahu baca’annya saja tetapi harus sampai pada praktek gerakan sholat, serta makna sholat juga harus dipahami sebagai pencegahan dari perbuatan keji dan mungkar. Artinya dengan melakukan ibadah tersebut kita bisa memahami bahwa ketundukan kita pada sang khaliq sebagai implementasi dari ibadah tersebut harus betul-betul menyadari bahwa kita sebagai manusia penuh dengan kelemahan dan keterbatasan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh angkuh, sombong, iri, merasa dirinya yang paling benar, karena sifat tersebut merupakan sifat tercela dan dibenci oleh Allah yang harus dijauhkan dari kehidupan sehari-hari.
Jikalau kita mengkaji islam lebih mendalam akan kita temukan bahwa islam tersebut sangat proporsional memahamkan manusia agar betul-betul bisa menggunakan akalnya dalam mengkaji dan memahami alam semesta, manusia dan kehidupan sebagai bagian dari penciptaan Allah. Itu sebabnya kenapa banyak ayat dalam Al-qur’an mengajarkan manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami persoalan yang ada, ini merupakan implementasi dari dalil aqli’ yang dipahami oleh umat islam.
Al-Qur’an telah memotivasi kepada semua manusia untuk senantiasa memahami, berpikir, mengkaji dan meneliti sesuatu yang terjadi di alam semesta sehingga dapat memberikan manfaat kepada semuannya dalam  rangka  mengabdi kepada tuhannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam beberapa ayat berikut:
$tBur äo4qu‹ysø9$# !$uŠ÷R‘$!$# žwÎ) Ò=Ïès9 ×qôgs9ur ( â‘#¤$#s9ur äotÅzFy$# ׎öyz tûïÏ%©#Ïj9 tbqà)­Gtƒ 3 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÌËÈ
Artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’am  6 : 32)
`tBur çnöÏdJyèœR çmó¡Åe6uZçR ’Îû È,ù=sƒø:$# ( Ÿxsùr& tbqè=É)÷ètƒ ÇÏÑÈ
Artinya: Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin 36: 68)
þ’Îûur ö/ä3Å¡àÿRr& 4 Ÿxsùr& tbrçŽÅÇö7è? ÇËÊÈ
Artinya: Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz-Dzariyaat 51: 21)
óOÎgƒÎŽã\y™ $uZÏF»tƒ#uä ’Îû É-$sùFy$# þ’Îûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ öNßgs9 çm¯Rr& ‘,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3tƒ y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« Íky­ ÇÎÌÈ
Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?  (QS. Fusilat 41: 53)
Ayat-ayat tersebut telah memotivasi semua manusia untuk senantiasa menggunakan akalnya dalam menemukan hal-hal yang baru, baik yang berkaitan dengan motivasi untuk bertambah kuatnya keimanan mereka kepada sang khaliq maupun dalam penelitian (research) mereka terutama berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuannya terinspirasi dalam islam sebagaimana tercantum dalam Al-qur’an. Jika kita melihat kemajuan peradaban manusia abad ke-21 ini, peradaban islamlah yang pertama kali meletakan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggunakan kaidah-kaidah logis, sistematis dan eksperimental. Kemajuan peradaban manusia masa kini sangat ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemajuan tersebut tidak berhenti sampai disitu saja tetapi berlanjut sampai pada penemuan industri baru yang memproduksi seluruh kebutuhan manusia. Perkembangan tersebut sangat tergantung dari kesungguhan manusia dalam menemukan hal-hal yang baru dengan segala tantangan dan rintangan yang telah dihadapinya.
Selain dalil aqli’ Allah memberikan gambaran kepada umat manusia untuk menggunakan dalil naqli’ yaitu argumen atau dalil yang bersumber dari Al-quran yang menjelaskan ketidakmanpuan dan keterbatasan akal untuk memahami persoalan diluar dari batasan akal yang dimiliki oleh manusia. Misalkan memahami persoalan yang gaib (tidak bisa diraba secara faktual), perkara ini tidak mungkin diyakini hanya berdasarkan dalil aqli’ saja tetapi harus didasarkan pada informasi dalil naqli’.
Doktrin islam sangat rasional (masuk akal), tidak ada ajaran islam yang kita ragukan dalam memahami perkara yang ada yang telah dijelaskan dari sumbernya (Al-Qur’an). Misalkan dalam memahami siapakah tuhan manusia yang telah menciptakan kompleksifitas alam semesta, manusia dan kehidupan. Sebagai pandangan awal kita apakah mungkin tuhan manusia adalah benda mati, batu-batuan, pohon besar (berkeramat), patung ataukah manusia itu sendiri? Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bisa bergerak menciptakan yang bergerak, atau apakah mungkin manusia menciptakan manusia juga? Jawabannya tidak masuk akal, karena yang dipahami oleh akal bahwa tuhan yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan itu adalah berbeda dengan benda mati dan manusia itu sendiri. Oleh karena itu Al-Quraan menjelaskan masalah ketuhanan jelas dalam QS-Al-Ikhlas 1-4:
ö@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ ª!$# ߉yJ¢Á9$# Ns9ÇËÈö ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ Artinya. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Apa yang dijelaskan dalam surat Al-Ikhlas tersebut tergambarkan bahwa tuhan yang disembah adalah satu-satunya (esa), tidak boleh berbeda antara satu dengan yang lainnya dan tuhan itu tidak punya anak atau diperanakan. Hanya kepada-Nya sajalah tempat manusia meminta, bergantung dan memohon sesuatu karena kita memahami pada satu-satunya tuhan dan tidak ada yang setara dengan Dia. Maka tuhan manusia harus bersifat absolut (mutlak) adanya.
Pemahaman awal inilah yang memotifasi manusia untuk untuk senantiasa mengkaji ajaran agama yang benar dan rasional, agar dengan kebenaran itu manusia bisa hidup damai dalam meraih kemuliaannya. Kebenaran islam bisa dibuktikan dengan dalil aqli’ dan dalil naqli’ dalam mengkaji apa yang diajarkan oleh islam. Islam adalah agama yang benar, dan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah sebagaimana firman-Nya:
¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$# 3
Artinya: sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali-Imran:19)
Logika terbaliknya, jika ada agama yang diridhoi oleh Allah maka ada agama yang tidak diridhoi oleh Allah, itu artinya bahwa agama islam adalah satu-satunya agama yang semua ibadah dan amalnya diterima oleh Allah sebagai tuhan manusia dan semua ibadah dan amal diluar dari agama islam ditolak atau tidak diterima oleh Allah. Oleh karena itu, larangan keras manusia beragama selain islam. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
`tBur Æ÷tGö;tƒ uŽöxî ÄN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ `n=sù Ÿ@t6ø)ムçm÷YÏB uqèdur ’Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÌÅ¡»y‚ø9$# ÇÑÎÈ
Artinya: Barangsiapa mencari agama selain islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali-Imran: 85).
Ketegasan Allah sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas, menandakan bahwa perkara jalan/cara (agama) dan tuhan merupakan perkara yang penting untuk sampai kepada Allah. Cara yang dijelaskan oleh tuhan itulah cara terbaik dan cara yang benar untuk mendapatkan ridho dan ampunan-Nya. Jika kita tidak mengikuti cara yang telah jelaskan oleh Allah maka manusia akan menuai jalan buntu dan kehilangan arah untuk mencapai tujuan dalam meraih diridhoi oleh Allah yaitu surga.
Islam adalah agama yang sempurna, agama yang meluruskan agama-agama terdahulu. Karena dengan islam mereka manpu menemukan kebenaran tauhid yang sesungguhnya. Kesempurnaan islam tersebut telah digambarkan oleh Allah dalam QS. Al-Ma’idah: 3 yaitu:
t4 tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# ’Îû >p|ÁuKøƒxC uŽöxî 7#ÏR$yftGãB 5OøO\b}   ¨bÎ*sù ©!$# Ö‘qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÌÈ
Artinya: Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa. Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Berdasarkan penjelaskan di atas, maka pantas penulis katakan bahwa kebenaran hanyalah dengan islam tidak ada yang lain. Jika ingin menemukan kebenaran maka pelajarilah islam, niscaya engkau akan menjadi orang-orang yang bahagia didunia hingga surga.
Wallahu a’lam bi shawab.

Senin, Oktober 08, 2012

Reconceptualized Filsafat Matematika


Pengetahuan matematika merupakan seperangkat kebenaran dalam bentuk satu set proposisi dengan pembuktiannya, sedangkan fungsi filsafat matematika adalah untuk menetapkan kepastian ini pengetahuan. Setelah menemukan bahwa hipotesis ini tidak dapat dipertahankan maka kita  bisa membuktikan kembali dari sifat filosofi matematika.

Jumat, Oktober 05, 2012

Renungan Hidup

Pernahkah kita berpikir bahwa kita tidak pernah ada di Bumi ini dan bagaimana kita berbentuk rupa seperti ini padahal awalnya wujud kita tidaklah lebih besar daripada sebutir garam?
Pernahkah kita berpikir bagaimana pepohonan mampu mengalirkan air hingga ketinggian 120 meter ke cabang-cabangnya padahal pepohonan tidak memiliki mesin atau pompa?
Pernahkan kita berpikir bahwa bumi berputar pada sumbunya dengan kecepatan 1.670 km perjam namun demikian tak satu bendapun yang terlempar dan hilang diruang angkasa?
Pernahkan kita berpikir bagaimana sejumlah serangga mengepakkan sayapnya sekitar 1000 kali perdetik akan tetapi sayap itu tidak pernah rusak dan terbakar?
Pernahkan anda berpikir bagaimanakah kota anda dihuni, kos, rumah atau tempat kerja anda dapat hancur akibat gempa Bumi yang mungkin terjadi kapan saja atau anda mungkin saja kehilangan sesuatu yang anda miliki di Dunia ini dalam hitungan detik.?
Pernahkan anda berpikir bagaimana hidup anda berlalu begitu cepat hingga suatu hari nanti anda menjadi lemah, tua dan lambat laun kehilangan kecantikan, kebugaran dan kekuatan anda?
Pernahkan anda berpikir bahwa suatu hari, disaat yang paling tidak anda harapkan anda akan berhadapan dengan Malaikat Maut yang ditugaskan khusus oleh Allah dan anda harus meninggalkan dunia ini?
Pernahkan anda berpikir mengapa orang-orang sedemikian cintanya kepada dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan padalah yang semestinya mereka lakukan adalah berusaha keras meraih ridho Allah SWT dan kebahagiaan akhirat?
Jika seseorang tidak pernah memikirkan alasan mengapa dunia ini diciptakan, ia tak akan pernah memahami alasan keberadaannya di dunia, padahal Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan tertentu. Akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita di Akhirat kelak jika kita mau memikirkan kenyataan ini sekarang dan memahaminya dengan mengambil pelajaran yang berguna selagi Allah memberikan kesempatan di dunia ini.
“ Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.” (QS Ad-Dukhan: 38-39)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS Al-Mu’minuun :115)
Nah sekarang, coba kita tanya pada diri kita masing-masing, Hidup ini kita gunakan untuk apa??? Apakah kita harus sombong dengan tingkah laku kita, kekayaan kita, kecantikan dan kegantengan kita ataukah dengan jabatan kita??? Apakah kita harus buat aturan sendiri kemudian kita lalai dengan aturan/ syariah Allah ataukah kita berhukum kepada hukum yang tidak di ridhoi oleh Allah (Hukum Thogut)??? Tidak wahai saudaraku. Tidak ada yang bisa kita banggakan di dunia ini, Hidup ini sesingkat mungkin karena kita tahu bahwa usia kita semakin bertambah berarti jatah hidup kita semakin berkurang lagi setahun demi setahun dibandingkan tahun lalu. Hanya hidup dengan syari’ah dan hukum Allah lah kita bisa mulia di dunia dan di akhirat kelak agar cita-cita mulia kita yaitu Surga-Nya di ijinkan oleh Allah untuk di huni oleh kita orang-orang yang beriman, bertakwa dan tunduk kepada hukum, aturan atau Syari’ah-Nya .
Lalu coba renungi lagi firman Allah SWT:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat : 56)
Saat merenungi kembali ayat ini, hatiku menangis. Betapa tidak, Allah menciptakan hidup kita dan memberikan kita usia sekian puluh tahun sesungguhnya agar kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun keyatannya hidup kita habis untuk tidur dan berkerja mencari dunia, juga melakukan hal-hal yang sia-sia. Sebaliknya, hanya sebagian kecil usia kita habiskan untuk beribadah kepada Allah SWT dan dakwah.
Namun sekarang bagaimana jika semua aktifitas kita yang dianggap sebagai ibadah ternyata tidak bernilai apa-apa di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal kita ternyata tidak diterma oleh Allah? Bagaimana sholat kita yang jarang sekali khusuk itu ditolak oleh Allah? Bagaimana pula jika dakwah kitapun yang mungkin kadang-kadang bercampu denga riya’, angkuh, sombong, selalu ingin benar sendiri dan tak jarang minimalis tak dipandang oleh Allah?
Betul, kita tidak boleh pesimis, kita harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal kita diterima. Namun kita pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini kita anggap amal sholeh dan bernialai pahala, ternyata sebagian besarnya tidak bernialai apa-apa disisi Allah SWT.
Disisi lain, setiap hari, puluhan kali kita berbuat kemaksiatan kepada Allah. Kalikan saja, misalkan dengan 21 tahun usia kita (365 X 21 X 10) – masa kanak-kanak sebelum balik. Atau misalkan andai sudah berumur 21 tahun, kemudian selama 38 tahun itu kita gunakan untuk tidur selama 8 jam perhari, berarti 1/3 hidup kita hanya dipakai untuk tidur yakni sekitar 7 tahun. Andai sisa waktu kita perhari yanggal 16 jam itu dipakai untuk nonon TV, santai, ngobrol yang tidak-tidak dan melakukan hal-hal yang tidak berguna berarti sisa waktu kita perhari tinggal 12 jamnya di pakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tadi. 12 jam berarti setengah hari , jika dikalikan 21 tahun berarti 10,6 tahun (separuh umur kita) hanya kita pakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tidak berguna.
Tak terasa, air mata keluar dengan sendirinya tak kuasa menahan tangis, seraya bergumam,
“Ya Allah, setiap detik karunia dan nikmat-Mu turun kepadaku. Namun, setiap detik pula dosa dan kesalahanku naik kepada-Mu”.
Kemudian lantas berdoa dengan do’a Nabi Adam as:
“Ya Allah, Tuhan kami. Selama ini kami hanya menzalimi dan menganiaya diri kami sendiri . jika saja engkau tidak mengampunani dosa-dosa kami dan mengasihi kami. Tentu kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Lantas dilanjutkan dengan do’a Imam Al-Ghajali :
“Tuhanku, tidakalah pantas aku menjadi penghuni Firdaus-Mu. Namun, tak mungkin pula aku kuat menahan panasnya neraka-Mu. Karena itu, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa dan Engkau Maha Besar. Amin”

Minggu, September 30, 2012

JIHAD ITU BUKAN TERORISME BUNG!

Oleh: Harits Abu Ulya (Pemerhati Kontra-Terorisme & Direktur CIIA)

“Seribu kali kebohongan maka hasilnya adalah kebenaran”, pepatah ini tepat untuk menjelaskan upaya-upaya sebagian orang untuk mendaur ulang pengertian jihad. Jihad selalu didekatkan dengan tindakan terorisme, jihad sama dengan tindakan kekerasan, jihad identik dengan usaha merusak tanpa pandang bulu.Ada juga jihad dengan arti usaha keseharian mencari nafkah dengan sungguh-sungguh juga termasuk jihad, jihad melawan korupsi, jihad dalam menuntut ilmu, bekerja keras, disiplin, mengekang hawa nafsu dan makna-makna lain yang menyimpang dari makna hakikinya (syara’). Pengertian ini mengalir deras dari mulut-mulut orang kufar atau dari kalangan muslim yang kurang paham tentang hakikat jihad. Atau keluar dari ulama-ulama bayaran dan kaum munafikin yang hendak merusak ajaran-ajaran Islam. Cuma karena sokongan media yang pro mereka maka ‘kebohongan’ dalam memberi arti jihad telah merubah ‘arti bohong’ menjadi benar dan akhirnya sebagian umat (awam) yang masih butuh bimbingan ini termakan dan menelan mentah-mentah.
Menilik sejarah masa lalu;umat Islam Indonesia tidak asing dengan kata ‘jihad’, mengingat begitu besarnya nilai istilah ini bagi Indonesia dimasa-masa kritisnya merebut kemerdekaan dari penjajah(imperialis) Portugis, Jepang dan Belanda.Hanya orang-orang buta sejarah dan munafik yang tidak mengakui bahwa berkat resolusi ‘jihad’ yang dikeluarkan oleh para ulama’ secara individu atau institusi(kelembagaan seperti KH.Hasyim Asyari dengan NU-nya) sejak penjajah menginjakkan bumi Indonesia telah melahirkan pribadi-pribadi pejuang.Nyawa perlawanan bangkit subur karena panggilan jihad, dan orang-orang yang memahami keagungan jihadlah yang pada akhirnya menyingsingkan lengan baju berangkat kemedan-medan pertempuran; kembali dengan kemenangan atau syahid dimedan juang. Indonesia bisa merdeka seperti sekarang karena berkat ‘jihad’, apakah kita lupa dengan pekikan; ‘Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..” dari seorang Bung Tomo ketika menggelorakan pertempuran 10 November? Pangeran Diponegoro,Teuku Umar, Pangeran Antasari dan masih banyak lagi pahlawan yang akrab ditelinga kita; perjuangan mereka tegak dengan ruh jihad menyatu dalam aliran darah dan tiap tarikan nafas mereka.
Makanya umat perlu atau sangat perlu mewaspadai niat-niat busuk di balik upaya segelintir orang (karena sokongan media dan dana dari tuannya yang menjadikan seolah-olah besar) untuk menyimpangkan makna ‘jihad’ keluar dari definisi atau arti yang sesungguhnya.Apalagi ada moment atau peristiwa yang bisa dijadikan pintu masuk atau alasan untuk mengotak-atik arti jihad ini.Kasus Bom bali 1&2, eksekusi Amrozi dkk, bom Depok, bom Serpong, bom gereja Komponten Solo, dan lainya, padahal di saat yang sama masyarakat dunia bisa melihat dengan mata kepala sendiri betapa jahat dan biadabnya Amerika, Cs atas tindak terorisme dengan pengeboman-pengeboman yang menumpahkan darah dan nyawa yang jumlahnya ratusan kali lipat dibandingkan kasus bom Bali.Lihatlah nasib rakyat Irak, rakyat Afganistan, yang dicabik-cabik penjajah Amerika cs.
Maka ini adalah proyek penjinakan umat Islam agar mati ruh jihadnya, matinya jiwa perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan baik fisik atau non fisik, hegemoni atau penguasaan negeri-negeri Islam oleh negera-negera imperialis adalah menjadi motif utamanya. Makna-makna jihad yang manipulatif ini terus dipropagandakan di tengah-tengah kaum Muslim untuk mengaburkan dan menyimpangkan pandangan masyarakat terhadap makna jihad sebenarnya. Padahal, ruhul jihadmerupakan salah satu tiang pancang bagi tegaknya Islam dan kaum Muslim dari serangan musuh-musuhnya. Cuma sayang sebagian besar umat tidak bisa membaca hal-hal seperti ini, umat masih sangat butuh bimbingan agar bangkit kesadaran politiknya dan menimbang segala fenomena atau peristiwa menurut kacamata keyakinan dan syariatnya.
Makna ‘Jihad’ yang benar;
Seperti diterangkan dalam al Qur’an dan as Sunnah kemudian dibukukan dalam ratusan kitab fiqh oleh ulama’ salafus sholeh dan ulama’-ulama’ zaman sekarang (dan mu’tabar; jadi rujukan dan pegangan umat Islam), bisa diringkas;
Secara bahasa kata ”al-jihaad” berasal dari kata “jaahada”, yang bermakna ”al-juhd” (kesulitan) atau ”al-jahd” (tenaga atau kemampuan).Imam Ibnu Mandzur dalam Kitab Lisaan al-’Arab nya, secara bahasa, al-jihaad artinya;mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Dalam kitab Syarh al-Qasthalaani ‘alaa Shahiih al-Bukhaariy dinyatakan sebagai berikut Kata jihaadmerupakan pecahan dari kata al-jahd, dengan huruf jim difathah yang berarti: at-ta’b (lelah) dan al-masyaqqah (sulit). Sebab, kelelahan dan kesulitan yang ada di dalamnya bersifat terus-menerus. Kata jihaad bisa merupakan bentuk pecahan dari kata al-juhd dengan “jim” didhammah, yang berarti: at-thaaqah (kemampuan atau tenaga). Sebab, masing-masing mengerahkan tenaganya untuk melindungi shahabatnya.
Di dalam al-Quran dan Sunnah, kata jihaad diberi arti baru oleh syariat dari arti asal (bahasanya) atau menuju makna yang lebih khusus, yaitu, ”mengerahkan seluruh kemampuan untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung, dengan bantuan keuangan, pendapat (pemikiran), memperbanyak kuantitas (taktsiir al-sawaad) ataupun yang lain (Ibn ‘Abidiin, Haasyiyah, juz III, hal. 336) Dengan demikian, ketika kata ”jihad” disebut, secara otomatis orang akan memaknainya dengan makna syariatnya –berperang di jalan Allah”, bukan dengan makna bahasanya. Jihad dengan makna khusus ini, bisa ditemukan pada ayat-ayat Madaniyah. Sedangkan kata jihad di dalam ayat-ayat Makkiyah, maknanya merujuk pada makna bahasanya (bersungguh-sungguh).
Contoh Ayat-ayat yang memberikan pengertian Jihad adalah al Qital (perang);
“Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. al-Nisaa’ : 95)
Jihaad dalam ayat ini mempunyai pengertian: keluar untuk berperang, dan aktivitas ini lebih diutamakan daripada berdiam diri dan tidak berangkat menuju peperangan.
Para ulama empat madzhab juga telah sepakat bahwa jihad harus dimaknai sesuai dengan hakekat syariatnya, yakni berperang di jalan Allah baik secara langsung maupun tidak langsung.
Madzhab as-Syaafi’i, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab al-Iqnaa’, mendefinisikan jihad dengan”berperang di jalan Allah”. Al-Siraazi juga menegaskan dalam kitab al-Muhadzdzab; sesungguhnya jihad itu adalah perang.
Dalam masalah ini, Ibnu Qudamah dalam al Mughni-nya berkata: Ribaath (menjaga perbatasan) merupakan pangkal dan cabang jihad. Beliau juga mengatakan: Jika musuh datang, maka jihad menjadi fardlu ‘ain bagi mereka… jika hal ini memang benar-benar telah ditetapkan, maka mereka tidak boleh meninggalkan (wilayah mereka) kecuali atas seizin pemimpin (mereka). Sebab, urusan peperangan telah diserahkan kepadanya.
Jihad Ofensif dan Jihad Defensif
Dr. Mohammad Khair Haekal di dalam kitab al-Jihad wa al-Qital menyatakan, bahwa sebab dilaksanakannya jihad fi sabilillah bukan hanya karena adanya musuh (jihad defensif), akan tetapi juga dikarenakan tugas Daulah Islamiyyah dalam mengemban dakwah Islam ke negara lain, atau agar negara-negara lain tunduk di bawah kekuasaan Islam (jihad ofensif).
Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan batas minimal jihad yang dilakukan oleh negara. Imam al-Mawardiy dalam kitab al-Iqnaa’, hal.175 menyatakan, “Hukum jihad adalah fardlu kifayah, dan imamlah yang berwenang melaksanakan jihad…ia wajib melaksanakan jihad minimal setahun sekali, baik ia pimpin sendiri, atau mengirim ekspedisi perang.”
Syeikh Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitab Nihayah Az-Zain, “Jihad itu adalah fardhu kifayah untuk setiap tahun, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka. Paling sedikit satu kali dalam satu tahun, tapi apabila lebih tentu lebih utama, selama tidak ada kebutuhan lebih dari satu kali. Jika jihad tidak dilakukan maka wajib atas sebagian (kaum Muslimin) untuk mengajak jihad, dengan salah satu dari dua cara”.
Berdasarkan pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa jihad yang dilakukan oleh kaum Muslim bisa berujud jihad ofensif maupun defensive. Jadi jihad itu bukan terorisme, dan jihad tidak sama dan tidak identik dengan terminologi kekerasan.
Umat Islam bisa menyaksikan hari ini, penanganan aksi teror selalu di ekpos di media secara sengaja dengan mengkaitkan simbol-simbol Islam, misalkan barang bukti adalah buku-buku yang menjelaskan tentang jihad dan semisalnya. Sekalipun kita juga harus obyektif, barang kali ada segelintir orang muslim yang bias menterjemahkan jihad dalam konteks yang tidak tepat. Namun demikian bukan berarti orang bisa seenak perutnya mengkriminalisasi terma Jihad yang mulia.Bahkan condong penanganan ”terorisme” sudah lepas dari konteks historikal politik global maupun lokal yang sedemikian rupa akhirnya mendorong memposisikan umat Islam banyak membuat reaksi daripada aksi. Dan ketika sebagian saudara-saudara kita tidak mampu mengendalikan diri, outputnya adalah sebuah langkah yang akhirnya menjadi kontraproduktif di manipulir oleh media sekuler secara sistematis. Atas nama jihad melakukan tindakan teror yang tidak proporsional, dan membuat salah paham dunia dan umat Islam sendiri yang masih banyak yang awam. Maka, saya selalu katakan motif ”teror” tidak relevan lagi dengan terma jihad karena yang tampak adalah teror dan tindakan tidak logis lagi jika motifnya adalah sebuah tatatan politik baru yang disebut dengan negara Islam atau Khilafah Islamiyah.
Umat harus waspada manufer orang-orang yang membenci Islam & kaum muslim melalui permainan bahasa berusaha membikin kacau cara berfikir dan perilakunya.Wallahu a’lam

Senin, Agustus 27, 2012

Belajar dari Perang Badar

Tidak ada sama sekali niat awal Rasulullah untuk berperang, maka tak heran hanya 314 kaum Anshar dan Muhajirin yang berangkat menuju Badar, niat hanya sekedar menghadang dan mengambil barang bawaan kau kafir Quraisy musyrikin yang hendak menuju Mekkah ternyata berbuntut peperangan yang secara kuantitas sungguh timpang. Berita keberangkatan Rasulullah dan Sahabat untuk menghadang Kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan ternyata ditengah jalan diketahui oleh mereka, diutuslah Dhamdham bin Amer al-Ghifari, kurir kaum Quraisy yang bertugas mengabarkan meminta bala bantuan kaum Quraisy Mekkah. Seketika seluruh kaum Quraisy yang sejak awal sudah sangat membenci kaum muslimin bergerak, tidak tanggung tanggung, 1000 lebih kaum Quraisy berangkat menuju medan Badar.
Disinilah kebijaksaaan Rasulullah terlihat, meskipun bertitel seorang utusan Allah, Rasulullah tidak semena-mena mengambil keputusan tanpa berdialog dengan kaum muslimin yang lain. Seketika mendengar keberangkatan bala bantuan kaum Quraisy musyrikin Mekkah menuju Badar, Rasulullah meminta pendapat para Sahabat. Kaum Muhajirin yang sejak awal mengikuti Rasulullah hijrah dan sangat percaya kepada Rasulullah seketika sepakat untuk melanjutkan penghadangan. Disisi lain, Disinilah ukhuwah islamiyah Kaum Anshar diuji, apakah kembali menuju Madinah dan menghindari bentrok fisik dengan kaum Quraisy yang berjumalh 3 kali lipat lebih banyak atau terus maju ke medan laga menghadap kaum Quraisy dan menjemput janji Surga Allah swt.
“Wahai Rasulullah, sepertinya engkau berbicara kepada kami. Mungkin  engkau khawatir bahwa kaum anshar merasa tidak wajib menolongmu kecuali engkau berada diwilayah mereka saja, sesungguhnya aku akan berkata atas nama kaum Anshar dan aku akan menjawab atas nama mereka”
Sa’ad Bin Mu’adz membuka pembicaraan, mewakili Anshar. Kemudian Ia melanjutkan. 
“Teruskanlah wahai Rasulullah apa yang engkau inginkan. Sambunglah hubungan dengan orang yang engkau kehendaki dan putuslah hubungan dengan orang yang engkau kehendaki. Musuhilah siapa yang engkau kehendaki dan berdamailah dengan siapapun yang engkau kehendaki. Ambilah dari harta kami apa yang engaku kehendaki dan berilah kami apa yang engkau kehendaki. Apapun yang engkau ambil dari kami lebih sukai daripada apa yang engkau tinggalkan. Perintahkan apa saja kepada kami, maka urusan kami hanya mengikuti perintahmu. Demi Allah seandainya engkau berjalan hingga sampai ke Barak Ghamdan, niscaya kami akan berjalan bersamamu. Demi Allah seandainya engkau membawa kami ke lautan dan menyelam. Niscaya kami akan menyelam bersamamu”.
Pernyataan Saad Bin Muadz itu menjadi pertanda betapa ukhuwah kaum Anshar tidak diragukan lagi, sekaligus menjadi tanda berlanjutnya misi penghadangan tersebut.
Kaum Muslimin sudah siap siaga, Panji Perang dipegang Mushab bin Umair, bendera kaum Muhajirin dipegang Ali Bin Abi Tahlib dan bendera kaum anshar dipegang Sa’ad Bin Mu’adz.
Perang insidental tersebut pun terjadi dan sejarah mencatatkan kualitas mengalahkan kuantitas. Jumlah kaum muslimin yang hanya sepertiga kaum kafir Quraisy nyatanya tidak menghalangi kemenangan Kaum Muslimin, karena pertolongan Allah bersama kaum Muslimin.
Rasulullah pun bersabda “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang sungguh terbukti janji-Nya, Dia menolong hamba-Nya dan dia telah menghancurkan sendiri tentara-tentara musuh.”
Allah pun mengabadikan kemenangan kaum muslimin itu dalam firmannya.
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukurinya” (QS. Ali Imran 123)
Sejarah mencatatkan Kaum Muslimin dengan jumlah 314 orang dapat mengalahkan kaum kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Kemenangan ini tidak saja sebagai bukti kualitas kaum Muslimin, kemenangan ini juga sebagai peningkatan Bargaining Position Kaum Muslimin di mata kabilah lain. Kemenangan Badar ini pula yang mempermudah ekspansi dakwah Rasulullah. Semoga kita terus dapat mengambil hikmah dari Kisah perang Badar ini.

Senin, Agustus 13, 2012

Jadikan Mudik Lebih Bermakna, Bukan Sebatas Budaya!

Idul Fitri sebentar lagi. Banyak umat Islam di tanah air  yang biasa merayakannya dengan pulang kampung, bertemu keluarga, orang tua dan saudara  dengan perasaan senang bercampur haru. Sungguh sebuah kegembiraan yang tak tergantikan dengan apapun. Ada yang rela menghabiskan uang untuk membeli tiket yang harganya naik berlipat-lipat. Ada yang menghabiskan waktu perjalanan di  bis, kereta, kapal semalaman bahkan kadang ada yang berhari-hari untuk sampai di tempat tujuan. Tak terbayangkan bukan, betapa melelahkannya berbagai aktivitas mudik ini dan berapa rupiah uang yang dihabiskan untuk budaya ini, bahkan ada yang sampai berhutang sekedar untuk biaya mudik dan berlebaran di kampung halaman.

Jumat, Juli 06, 2012

Kontroversial RUU Pendidikan Tinggi

Daftar Inventaris Masalah RUU Pendidikan Tinggi versi 26 Juni 2012, setidaknya ada 4 pasal kontroversial, yaitu:
Pasal 9 - terdiri dari 4 ayat (sebelumnya Pasal 10 di RUU PT versi 4 April 2012)
Ayat 2: Kebebasan mimbar akademik merupakan wewenang profesor dan/atau dosen yang memiliki otoritas dan wibawa ilmiah untuk menyatakan secara terbuka dan bertanggung jawab mengenai sesuatu yang berkenaan dengan rumpun ilmu dan cabang ilmunya.

Ayat 4
: Ketentuan lebih lanjut tentang sivitas akademika, rumpun, dan cabang ilmu sebagaimana dimaksud pada ayat 2 diatur dengan Peraturan Menteri

Catatan: Rumpun ilmu semestinya diserahkan ke perguruan tinggi yang dianggap lebih tahu, bukan negara. Pasal 16 - terdiri dari 3 ayat (sebelumnya Pasal 34 di RUU PT versi 4 April 2012)
Ayat 1: Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh setiap Perguruan Tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk setiap program studi yang mencakup pengembangan kecerdasan, intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan

Ayat 3: Ketentuan lebih lanjut mengenai kurikulum diatur dalam Peraturan Menteri

Catatan: Seharusnya kurikulum adalah wewenang perguruan tinggi.

Pasal 20 - terdiri dari 6 ayat (sebelumnya Pasal 45 di RUU PT versi 4 April 2012)
Ayat 1: Perguruan Tinggi menyelenggarakan penelitian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.

Ayat 6: Ketentuan lebih lanjut mengenai penelitian, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kerja sama antar Perguruan Tinggi dan antara Perguruan Tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri dalam bidang penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan pendayagunaan Perguruan Tinggi sebagai pusat penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah

Catatan: Jika penelitian diatur lewat peraturan menteri, dikhawatirkan independensi perguruan tinggi bakal terkikis.

Pasal 32 - terdiri dari 3 ayat (sebelumnya Pasal 66 di RUU PT versi 4 April 2012)Ayat 1: Perguruan Tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan Tridharma.

Ayat 2: Otonomi pengelolaan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan dasar dan tujuan serta kemampuan perguruan tinggi.
Ayat 3: Dasar dan tujuan serta kemampuan perguruan tinggi untuk melaksanakan otonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dievaluasi oleh Menteri

Catatan: Dinilai bertentangan antara Ayat (1) yang menyebut perguruan tinggi memiliki otonomi, tetapi di Ayat (3) otonomi dievaluasi oleh Menteri. 

Melihat beberapa pasal kontroversi RUU PT yang dicanankan oleh pemerintah, jelas akan digugat oleh rakyat alasannya pemerintah berusaha menghindar akan kewajiban pembiayaan. Sementara dalam pengelolaan sistem pendidikan pemerintah justru ingin terlibat lebih dalam. Inikan terbalik jadinya. oleh karena itu pemerintah harus membuka diri dan mengajak seluruh elemen terutama pihak-pihak terkait untuk membahas bersama RUU tersebut, agar tidak ada pihak yang dirugikan terutama masyarakat menengah ke bawah yang tidak bisa melanjutkan pendidikan anaknya yang disebabkan oleh biaya pendidikan yang sangat mahal.

Selasa, Juli 03, 2012

Tinggalkan Demokrasi?

Fakta menunjukan demokrasi sebagai pilihan politik di negeri ini tidak memberikan manfaat. Kalaupun ada manfaat itupun kecil. Para politisi, intelektual, maupun pemerintah ini belum sadar kebobrokan demokrasi. Mereka masih rela untuk menyokong dan tambal sulam kekurangannya. Jika masih tambal sulam menunjukan bahwa demokrasi tak layak diterapkan. Seharusnya pilihan politik di negeri ini bukan coba-coba. Mengingat hal ini merupakan urusan orang banyak (rakyat).
 
Politisi dalam sistem demokrasi terkadang mereka tidak memahami politik. Politik dalam demokrasi hanya didasarkan pada upaya meraih kekuasaan. Pemekiran sempit ini mengakibatkan siapapun orangnya siap berkompetisi dalam politik. Walaupun orang awam—artis, rakyat biasa, tukang becak, penjual jamu, dll— yang tak mengenal politik. Akibatnya ketika mereka duduk di kursi jabatan lupa segalanya. Mereka berpolitik tidak dilandasi oleh ideologi yang benar. Yang ada hanya hasrat untuk berkuasa. Motto mereka “otak cekak tak masalah. Duit pun bisa hutang ke mana-mana. Yang penting tenar dan berkuasa”.

Intelektual saat ini masih memandang demokrasi sebagai sistem terbaik. Pengaruh ini kental dengan asal dari demokrasi yaitu sistem politik barat yang memisahkan agama dan kehidupan. Sedikit dari mereka yang melirik sistem politik agama (islam) sebagai alternatif dari kebobrokan demokrasi. Melihat kebobrokannya mereka siang dan malam berusaha untuk memperbaikinya. Tambal sulam sistem demokrasi dengan jargon perubahan dan demokratisasi. Mereka sering mengucapkan jika demokrasi itu sudah baik. Yang tidak baik itu orang yang melaksanakan demokrasi. Pertanyaanya, kenapa sejak dulu yang dipermasalahkan orangnya? Bukankah orang merupakan produk dari sebuah sistem ?

Pemerintah—legislatif, eksekutif, yudikatif—saat ini belum memberikan pendidikan politik yang benar kepada rakyat. Ada kekhawatiran jika rakyat cerdas berpolitik akan mengguncang kekuasaan status quo. Tak ayal rakyat disuguhi dengan pendidikan money politik (politik uang), politik kotor dengan pengabaian urusan rakyat, dan politik konyol dengan pernyataan yang tak masuk akal.

Kondisi keterpurukan akibat penerapan demokrasi tidak boleh berlanjut. Negeri ini butuh berkembang, maju, berdaulat, dan berkeadilan. Maka pilihan untuk tawaran hanya pada pilihan sistem politik Islam.
Politik Islam

Politik dalam Islam bermakna mengurusi urusan umat. Kekuasaan bukanlah tujuan utamanya. Tujuan utama dari politik Islam yaitu untuk penerapan syariah Islam dalam bingkai negara. Syariah Islamlah yang akan digunakan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.

Untuk menjadi seorang politisi, Islam telah menggariskan beberapa hal: pertama, Politisi berlandaskan aqidah Islam. kedua, Politisi menolak berkompromi dengan sistem selain islam. ketiga, Politisi memiliki fikrah dan toriqoh yang jelas. Keempat, ideologinya Islam. Begitu pun partai politik. Sebagai sebuah partai politik Islam mewajibkan memberikan pendidikan di tengah-tangah umat. Umat dididik dengan tsaqofah Islam. partai pun melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar. Islam memahami betul jika rakyat cerdas maka pemerintah pun sehat karena didukung oleh umat (rakyat).

Pemerintah sebagai pihak yang mengurusi urusan umat akan bekerja sama dengan semua elemen. Pemerintah dalam Islam bukanlah corporate state. Karena pemerintah tidak disokong oleh pemodal (kapitalis). Pemerintahan Islam merupakan representasi dari umat dalam mengurusi urusan umat. Tidak seperti demokrasi rakyat sering terabaikan. Pemerintah merupakan pelayan sehingga memanusiakan rakyat.

Sistem politik Islam (Khilafah) telah teruji dan sudah diterapkan selama 13 abad. Selama itu pula kehidupan diatur dengan aturan dari Sang Pencipta. Ketika umat, partai politik, dan pemerintah bersatu negara semakin kuat dan terdepan. Jika Indonesia ingin menjadi bangsa terdepan, berdaulat, dan diperhitungkan dalam politik. Maka satu-satunya meninggalkan demokrasi dan mengambil Islam sebagai aturan sistem politik dan pemerintahan. Itulah pilihan orang-orang yang berakal.

Indonesia dalam Lingkaran Corporate State

 Apapun akan dilakukan jika itu demi kekuasaan. Itulah sikap Nasional Demokrat (NasDem) yang akan membiayai calon legislatfnya (caleg) berkisar Rp 5-10 miliar. Angka yang cukup fantastis dalam dunia perpolitikan yang sarat akan kepentingan dan uang. Modal politik dalam demokrasi sangatlah mahal. Biaya— kampanye, cetak brosur, iklan di media massa, tim sukses, pengerahan massa, dll— merupakan gambaran nyata politik demokrasi. Memang segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya. Ketika uang dijadikan tujuan meraih kekuasaan hasilnya miskin perjuangan untuk rakyat.
Pembiayaan caleg NasDem berasal dari inisiatif Surya Paloh. "Berkaitan dengan gagasan untuk mensupport pembiayaan caleg oleh Partai Nasdem, sesungguhnya hal ini berkembang dari gagasan seorang Surya Paloh yang melontarkan kehendak untuk terbebasnya proses politik dari pola transaksional, khususnya dalam hal rekrutmen," kata Ketua Bapilu Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan, kepada detikcom, Selasa (12/6/2012).[1]

Apa yang disampaikan Surya Paloh berbeda ketika awal kehadiran NasDem di Jawa Barat. Surya Paloh ketika itu melantik pengurus di Jawa Barat. Seperti diketahui, kata Paloh, Nasdem belum memiliki banyak donatur, belum bisa melakukan iuran organisasi sehingga tidak banyak biaya yang tersedia untuk jalankan organisasi ini.[2]

Sejatinya sikap politik para politisi Indonesia senantiasa berubah-ubah. Ciri politik ini melekat di banyak politisi. Mengingat politik penuh intrik dan kompromistis jika yang dipahami hanya untuk mencari uang dan jabatan. Terkadang menjadi kawan dan terkadang menjadi lawan. Hal ini sudah jamak adanya. Apalagi NasDem yang ingin menunjukkan citra diri. NasDem dalam pemilu 2014 begitu digadang-gadang membawa restorasi baru untuk Indonesia. Sambutan hangat masyarakat terlihat jelas dalam survey yang dilakukan SSS (Soegeng Sarjadi Syndicate) menunjukkan elektabilitas NasDem 4,8 persen (Juni 2012); sementara temuan LSI (Lingkar Survei Indonesia) 5,9 persen (Maret 2012).

Kalaupun upaya NasDem dengan memberikan bantuan dana untuk mengurangi korupsi anggota legislatif. Perlu dipertanyakan pula motif dibalik itu apa? Apakah motif pencitraan ? Ataukah motif untuk mendulang dukungan tahun 2014 ? Selama ini pun anggota legislatif di DPR mendapat citra buruk sebagai lembaga terkorup. Penilaian ini berdasar survey yang dilakukan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) terhadap 2.192 responden yang tersebar di 33 provinsi.
Responden, lanjutnya, juga meyakini anggota DPR sekarang hanya sekedar mencari nafkah. Sebanyak 1.367 responden atau 62,4 persen mengatakan hal tersebut. Sementara 21,3 persen lainnya menilai DPR hanya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat. Sisanya menyatakan tidak tahu (15,6%) dan tidak menjawab (0,8%). Sebagian masyarakat juga tidak mengetahui mengenai produk baru DPR yakni Badan Anggaran. Responden mengatakan, tidak tahu kalau Banggar DPR boleh ikut campur dalam pengalokasian anggaran untuk proyek dalam APBN. Sebanyak 883 responden atau 40,3 persen menyatakan tidak tahu mengenai hal tersebut. Sedangkan yang menyatakan Banggar boleh ikut campur sebanyak 673 responden atau 30,7 persen. Menurut Dahlan, banyaknya kasus suap dan korupsi yang terjadi saat ini membuat responden menyatakan bahwa kasus korupsi dan suap merupakan masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan, yakni 1.044 responden atau 47,6 persen..

Selasa, Juni 05, 2012

THE INEVITABLE CALIPHATE

By. Ismail Yusanto.

Salah satu cara untuk ‘melunakkan’—sekarang progam seperti ini lebih dikenal dengan istilah deradikalisasi—tokoh Islam di Indonesia adalah dengan mengajak mereka berkunjung ke sejumlah negara Barat, terutama AS. Dengan melihat langsung kondisi fisik, sosial dan ekonomi di sana diharap mereka menjadi lebih mengerti “keindahan, ketertiban dan kemakmuran” yang bisa dicapai negara-negara Barat yang sering dicap sebagai sekular. Maksudnya, tanpa Islam pun, semua kebaikan dan kemajuan itu bisa dicapai. Jadi mengapa mesti ngotot memperjuangan Islam sebagai dasar negara?
Mungkin terdengar lucu, apa iya hanya dengan berkunjung sesaat orang bisa berubah? Tapi, itulah faktanya. Sudah ratusan, bahkan mungkin ribuan pimpinan pesantren, tokoh ormas Islam, juga tokoh pemuda Islam yang mengikuti program ini. Beberapa waktu lalu bercerita pada saya satu tokoh pemuda dari ormas yang banyak mempunyai pesantren di Indonesia, bahwa ia dan belasan pemuda Islam lain baru saja diundang jalan-jalan ke AS. Di antaranya berkunjung ke Hawaii, Los Angeles, New York dan Washington; termasuk berkunjung ke Gedung Putih dan Gedung Capitol. Dulu pada tahun 70-an, Nurcholis Madjid dalamusia yang masih belia juga pernah diajak keliling AS selama 3 bulan.
Berhasilkah program itu? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas, kini tidak lagi terdengar nada kritis dari ormas pemuda tadi terhadap AS. Kita juga mungkin semakin sering mendengar ungkapan, “Negara Barat lebih islami daripada negeri Muslim.” Nurcholis Madjid yang ketika itu dijuluki Natsir Muda, sepulang dari AS menjadi lebih lunak, bahkan kemudian dikenal sebagai tokoh yang membawa arus liberalisasi Islam di Indonesia.
Namun, bila logika ini benar, jutaan pemuda Islam yang kini tinggal di negara-negara Barat mestinya juga tersekularkan. Nyatanya tidak selalu. Alih-alih tersekularkan, mereka justru bangkit dan makin yakin dengan kebenaran Islam. Di antara mereka terdapat sosok istimewa: Reza Pankrust.
++++
Reza lahir pada 1976 di Bristol, Inggris. Ia dibesarkan dalam rumah tangga sekular. Ibunya yang keturunan Iran menikah lagi dengan pria Inggris non-Muslim. Tak aneh bila masa kecilnya dihabiskan tanpa bimbingan agama. Ketika berusia 15 tahun, Reza masuk Islam, namun ia tidak terlalu paham apa itu Islam. Ia pun merasa senang dengan gaya hidup Baratnya.
Pertemuan dia dengan Hizbut Tahrir di kampus tempat ia kuliah mengubah segalanya. Ia menjadi benar-benar yakin akan kebenaran Islam. Ia tinggalkan gaya hidup Baratnya dan mengikatkan diri pada halal-haram. Ia bahkan akhirnya bergabung dengan Hizbut Tahrir. Berbeda dengan gerakan Islam lain, ia melihat Hizbut Tahrir fokus pada isu kunci untuk mengembalikan kehidupan Islam kaffah dalam institusi Khilafah. Ia meyakini bahwa Khilafah merupakan kewajiban atas umat yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Itu bukanlah keyakinan doktrinal, namun sebuah keyakinan intelektual. Hal itu ia kemudian buktikan melalui disertasi Ph.D-nya di London School of Economics and Political Science (populer dengan sebutan London School of Economics/LSE) yang baru saja ia rampungkan.
Saya terakhir bertemu dengannya di Kyoto, Jepang, Maret tahun lalu ketika bersama-sama menjadi pembicara dalam Workshop Internasional tentang Islamic World and Globalization, Beyond the Nation State the Rise of New Caliphate yang diselenggarakan oleh Cismor – Doshisha University. Melalui email ia mengabari saya bahwa disertasinya itu telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Inevitable Caliphate? A History of the Struggle for Global Islamic Union, 1924 to the Present.
Sesuai judulnya, buku ini merupakan gabungan telaahan historis-deskriptif tentang konsepsi Khilafah dari berbagai sudut pandang dan menurut berbagai sumber. Buku ini juga memuat sejarah perjuangan atau usaha untuk mewujudkannya kembali oleh berbagai kelompok Islam sejak masa-masa awal pasca penghapusan resmi Kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924 hingga sekarang. Dengan kemampuan penguasaan bahasa Arab Reza yang cukup prima, membuat buku ini sangat kaya rujukan baik dari khasanah klasik maupun modern.
Dimulai dari periode penghapusan resmi Kekhalifahan, buku ini mengupas ide dan wacana dari berbagai tokoh Islam seperti Rasyid Ridha, Ali Abdul Raziq, Hasan al-Banna, Taqiyuddin an-Nabhani, Sayyid Qutb, Abul Ala al-Maududi, Usamah bin Laden dan Abdullah Azzam; serta kelompok Islam, termasuk Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, al-Qaida dan al-Murabitun—persamaan dan perbedaannya dalam memahami ide Khilafah, statusnya dalam teologi Islam, dan bagaimana hal itu dapat diterapkan dalam realitas kontemporer menuju terbentuknya the unity of the ummah (kesatuan global umat).
Demikian genial buku ini ditulis, membuat Professor James Piscatori, Head of the School of Government and International Affairs, Durham University, memuji buku Reza sebagai telah “memberikan panduan yang paling dapat diandalkan tentang ide Islam politik dan bagaimana gerakan-gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan al-Qaida mewujudkannya…”
Menurut dia, buku ini memberikan telaah pemikiran modern tentang Khilafah. Buku ini merupakan bacaan yang penting dan inovatif bagi siapa pun yang ingin memahami Kekhalifahan dan apa arti perjuangan ini bagi umat Islam. Buku ini juga disebut telah berhasil memberikan pemahaman yang unik dan provokatif tentang Islam politik, jalan kebangkitan Islam pada abad ini dan tentang bagaimana gagasan Kekhalifahan yang telah memudar kini muncul kembali.
Professor John T. Sidel, dari London School of Economics and Political Science (LSE) menyebut buku ini telah berhasil menjelaskan secara sistematis bagaimana ide khilafah mampu mendorong para ulama atau intelektual dan aktivis Islam. Oleh karena itu, menurut dia, “umat harus memastikan untuk membaca buku yang sangat mencerahkan dan instruktif ini… “
SubhanalLah wa astaghfirulLah… SubhanalLah atas keberhasilan Reza menuliskan buku tentang Khilafah dan usaha untuk menegakannya kembali dengan sangat bagus. Dengan telaahan sekelas disertasi dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Inggris, tak pelak akan membuat buku ini menjadi rujukan penting tentang Khilafah.
AstaghfirulLah untuk anak-anak muda, juga tokoh umat Islam di Indonesia, yang meski sudah demikian gamblang dijelaskan dalam berbagai buku—termasuk dari disertasi Ph.D Reza Pankrust—masih saja meragukan sistem Khilafah dan perjuangannya. Apalagi ada segelintir anak-anak muda Islam, juga tokoh umat, yang baru diajak berkunjung sesaat ke negara-negara Barat sudah luntur ghirah Islamnya. Sebaliknya, Reza dan ribuan anak-anak muda Islam yang lahir dan besar di negara Barat justru saat ini tengah bergiat untuk menegakkan kembali izzul Islam wal Muslimin melalui Khilafah Islam. Mereka tahu persis bahwa gemerlap dunia Barat (kalau boleh disebut begitu), yang sering mengecoh sebagian umat Islam di Indonesia, hanyalah sisi fisikal belaka. Di balik itu semua sesungguhnya terkandung sebuah basis peradaban material yang sangat rapuh, yang akan membawa kerusakan bagi siapa saja. Oleh karena itu, bagi Reza dan ribuan anak-anak muda Islam di Barat khususnya, masa depan kemuliaan peradaban manusia terletak hanya pada Islam, dengan syariahnya di bawah naungan Khilafah. Bagi mereka, tegaknya kembali Khilafah adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan; persis seperti judul bukunya The Inevitable Caliphate…[]